Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Sabtu, 29 Mei 2010

Kepercayaan Rakyat

Kepercayaan rakyat atau yang sering disebut dengan ”takhyul” adalah kepercayaan yang oleh orang berpendidikan Barat dianggap sederhana bahkan pandir, tidak berdasarkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Berhubungan kata takhyul mengandung arti merendahkan atau menghina, maka ahli foklor modern lebih senang mempergunakan istilah kepercayaan rakyat (folk belief) atau keyakinan rakyat dari pada menyebutnya dengan kata ”takhyul”, karena takhyul merupakan hayalan belaka atau sesuatu yang hanya di angan-angan saja (Poerwadarminta, 1976:996).

Alan Dundes mengatakan bahwa takhyul adalah ungkapan tradisional dari satu atau lebih syarat, dan satu atau lebih akibat, beberapa syarat-syaratnya bersifat tanda dan yang lainnya bersifat sebab ( Dundes, 1961):25-26).

Berhubung takhyul adalah semacam ungkapan tradisional maka ia termasuk foklor, tetapi berbeda dengan kapan tradisional lainnya seperti bahasa rakyat, pribahasa, teka-teki, sajak, nyanyian rakyat, dan cerita rakyat. Ada sebuah klasifikasi takhyul yang dibuat oleh Wayland D. Hand, seorang redaksi bab ”Superstitious” dari buku The Frank C. Brown Collection of Nortt Coralina Foklor, jilid VII. Ia telah menggolongkan takhyul menjadi empat golongan besar.

a) Takhyul di sekitar lingkaran hidup manusia, ada tujuh kategori:

Ø Takhyul lahir, masa bayi dan masa kanak-kanak, ini merupakan kepercayaan rakyat yang menjadi latar belakang upacara-upacara lingkaran hidup manusia yang banyak dipraktekkan oleh bangsa Indonesia. Contoh: di Jawa wanita yang sedang mengandung dianjurkan untuk melihat benda-benda atau manusia yang bagus.

Ø Takhyul tubuh manusia dan obat-obatan, contoh: pada orang Indonesia bagian tubuh yang harus dilindungi adalah kepala karena di sana terletak tenaga hidupnya.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan rumah dan pekerjaan rumah tangga, contoh bila pada waktu membubuti bulu ayam karena bila sambil bicara ada kepercayaan bulu dapat tumbuh lagi secara gaib.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan hubungan sosial, contohnya jika ada tamu yang terlalu lama bertamu dan tidak mau segera pulang, maka dapat dipaksa segera pergi dengan jalan membawa ulegan untuk mengulek bumbu masakan di hadapannya.

Ø Takhayul yang berhubungan dengan perjalanan dan perhubungan, contohnya bila ada mata kita kedutan, alamat akan menerima berita yang kurang baik.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan cinta, pacaran dan pernikahan.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan kematian.

Biasanya masyarakat desa ada yang mempercayai adanya ”dhayang”. Dhayang ini sering memiliki zat sakti yang disebut ”pulung”. Pulung ini akan merasuki tubuh calon lurah yang kemudian akan menjadi kepala desa. Sedangkan daerah kekuasaan suatu dhayang disebut ”kumaran’. Kata kumaran berasal dari kumara atau kemara yang berarti suara yang tidak tahu datangnya dari mana.

Suatu fungsi kepercayaan terhadap roh-roh gaib seperti bangsa alus, memedi, gendruwo, lelembut, setan, jin, dan dhayang menurut Clifford geertz adalah untuk memberi suatu perangkat penjelasan, yang telah tersedia, kepada para penganutnya dan untuk menerangkan pengalaman yang aneh-aneh serta sangat membingungkan.

Takhyul mengenai terciptanya alam semesta dan dunia oleh Wyland D. Hand dibagi lagi menjadi empat:

Ø Takhyul mengenai gejala atau fenomena kosmik diantaranya adalah kepercayaan rakyat mengenai gempa yang ada di Nias dianggap sebagai bergoyangnya ular besar yang mendukung bumi. Ular raksasa tersebut berbuat seperti itu karena untuk memeriksa apakah di bumi ini masih ada manusianya atau tidakkarena sehabis perang terasa ada darah manusiia yang menetes ketubuhnya setelah menetes ke bumi.

Ø Takhyul mengenai cuaca juga ada di Indonesia, misalnya pada malam hari jika ada orang yang melihat lingkaran putih di sekeliling bulan, maka itu merupakan alamat bahwa esoknya akkan turun hujan.

Ø Takhyul mengenai binatang dan peternakan, misal ada kepercayaan orang Jawa bahwa burung perkutut dapat memberi alamat baik maupun buruk kepada pemeliharanya.

Ø Takhyul mengenai penangkapan ikan dan berburu.

Ø Takhyul mengenai tanaman dan pertanian, misalnya hari baik sayur-sayuran dan kacang-kacangan adalah hari waspati (kamis) dan Sukra(jum’at).

Latar belakang mengapa takhyul masih dapat bertahan sampai sekarang ini dikarenakan cara berfikir yang salah, koinsiden, predileksi (kegemaran), secara psikologis umat manusia untuk percaya kepada hal-hal yang gaib, nitus peralihan hidup, teori keadaan dapat hidup terus, perasaan ketidaktentuan tujuan-tujuan yang sangat didambakan, ketakutan akan hal-hal yang tidak normal atau penuh resiko dan takut akan kematian.


0 komentar:

Poskan Komentar