Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Kamis, 20 Mei 2010

Bahasa Jawa dan Klassifikasinya di Surakarta

BAHASA RAKYAT
Bentuk-bentuk folklore yang termasuk dalam bahasa rakyat adalah :
1. Logat (dialek)
Dialek bahasa Jawa yang ada atau digunakan di Surakarta adalah dialek Surakarta atau lebih dikenal dengan sebutan dialek Solo dianggap sebagai dialek bahasa Jawa yang halus jika dibandingakan dengan dialek bahasa Jawa yang lain. Dialek Solo dianggap sebagai bahasa Jawa yang baku, digunakan pada pembelajaran di sekolah-sekolah, bahkan dianggap sebagai bahasa nasional orang Jawa. Di keraton dipakai sebagai bahasa resmi dalam kedinasan dan adat tata cara keraton. Contoh : witekna artinya lha bagaimana, semua akhir kalimatnya ditambah ‘no’, jiglok artinya jatuh, ‘horok’ : lho, naknu/saknu : kalau begitu, oglangan : mati lampu
Warga yang tinggal di daerah pesisir kebanyakan mengganti huruf “y”
menjadi “z”. Contoh : Maryono menjadi Marzono.
Cucu laki-laki biasanya dipanggil dengan sebutan gendro (“ndro”).
Biasanya mengganti nama setelah nikah. Contoh : Kasiman, menjadi Kasiman Kartosuwiryo.
Contoh lain : gek, kepeze, njongok (lungguh), nggogok (lungguh), njobo, tek, bangsul (wangsul), sedhiluk (sebentar)
2. Slang / Cant (bahasa rahasia)
Slang/ cant berarti bahasa rahasia, misal : bahasa rahasia yang digunakan oleh pencopet menyebut polisi dengan istilah ”rumput” dsb.
Bahasa rahasia yang banyak digunakan di eks Karesidenan Surakarta adalah : ndorong (duduk sendiri), toge (stabil/ tetap), bileng (panas sekali), munggah sengkan (naik sekali), ngare (tegalan yang agak kebawah), wong sanga-sanga, wong kurang sesendok (ora genep).
3. Shop Talk (bahasa para pedagang)
Shop talk adalah bahasa yang digunakan pedagang untuk menyebut istilah-istilah dalam perdaganga. Ini biasanya banyak digunakan di pasar-pasar tradisional, misal : pedagang di Jakarta menyebut istilah ”cepek” yang berarti seratus.
Bahasa yang biasanya digunakan para pedagang di Eks Karesidenan Surakarta adalah segendhok yang artinya tempe daun 2 dijadikan 1.
4. Colloquial (bahasa menyimpang)
Colloquial berarti bahasa menyimpang, misal : bahasa mahasiswa di Jakarta yang berasal dari Suku Betawi dibubuhi dengan istilah khusus seperti ajigile (gila), bujubuset, dsb.
Bahasa menyimpang di Eks Karesidenan Surakarta sebenarnya hanya penggantian 1 huruf atau pemindahan sebagian huruf dalam satu kata, contohnya : namung menjadi naming, ngleresi menjadi ngleseri (kebetulan)
5. Sirkumlokasi (ungkapan tidak langsung)
Sirkumlokasi adalah ungkapan tidak langsung. Sirkumlokasi di Jawa Tengah misalnya : jika seseorang berada di hutan ia takkan berani menyebut macan jika akan menyatakan harimau, melainkan menggunkan istilah ”eyang” atau ”kyai”
Ungkapan tidak langsung ini digunakan untuk menghormati penunggu suatu tempat. Jika seseorang berada di hutan ia takkan berani menyebut macan jika akan menyatakan macan, melainkan menggunkan istilah ”eyang” atau ”kyai”. Macan yang biasa dipanggil dengan nama “mbahe”. Ular yang biasa dipanggil dengan nama “uyut”
6. Cara pemberian nama pada seseorang
Orang Jawa yang masih tinggal di desa-desa atau masih sangat tradisional biasanya memberikan nama anaknya dengan memperhitungkan tanggal dan hari lahirnya.
Orang tua memberikan nama anaknya dengan memperhitungkan tanggal dan hari lahirnya juga berdasarkan doa dan harapan mereka. misalkan Soma, Kliwon, Sapar.
7. Pemberian julukan seseorang
Pemberian julukan kepada seseorang ini berdasarkan apa yang ada pada diri seseorang tersebut dan lebih condong kepada fisik seseorang tersebut, missal : menyebut orang yang gemuk dengan sebutan ”si Gendut”. Atau memanggil orang yang hitam dengan sebutan ”sireng” yang artinya si ireng.
8. Penukaran nama
Pada orang Jawa mengganti nama anak adalah yang lazim dilakukan. Karena orang jawa memercayai kalau nama seseorang itu berpengaruh kepada hidupnya. Misalnya mengganti nama anaknya yang sering sakit-sakitan dengan nama ”Slamet” dengan tujuan agar selamat. Bahkan diganti dengan nama yang jelek misal “si Budak”. Nama tersbut dikenal dengan istilah paraban. Jika anak sakit dan namanya diganti “Surip/Suripto”, nama anak tersebut sama dengan nama si penunggu desa atau hal ghaib.
9. Gelar Kebangsawanan
Gelar Kebangsawanan didapatkan secara turun temurun, ini biasanya terdapat dalam trah keluarga keraton. Juga diberikan kepada orang yang pantas atau pilihan dari keraton, misalnya terjadi pada artis-artis ibukota yang mendapat gelar kebangsawanan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.
Sedangkan jabatan tradisional biasa digunakan adalah bayan, lurah, camat, carik, modin. Dan yang dipakai di keraton adalah sebagai berikut :

Kasunanan Mangkunegaran
Penguasa Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Pakubuwana Senapati ing Alga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Kaping…(SISKS) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Mangku Negara Senapati ing Ayudya Kaping…(KGPAA)

Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan : (1) Ratu Kilen (2) Ratu Wetan Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)

Selir -Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy), dengan urutan : (1) Bandara Raden Ayu, (2) Raden Ayu, (3) Raden, (4) Mas Ayu, (5) Mas Ajeng, (6) Mbok Ajeng Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)

Putra Mahkota Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arum Amangku Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram (KGPAAC) Pangeran Adipati Harya Prabu Prangwadana

Anak lelaki selain putra mahkota dari permaisuri - ketika masih muda : Raden Mas Gusti (RMG)
- ketika dewasa : Kanjeng Gusti Pangeran (KGP), dengan urutan : (1) Mangku Bumi, (2) Bumi Nata, (3) Purbaya, (4) Puger Gusti Raden Mas

Anak lelaki dari selir - ketika masih muda : Bendara Raden Mas (BRM)
- ketika dewasa : Bendara Kanjeng Pangeran (BKP) Bendara Raden Mas (BRM)
Cucu lelaki dan keturunan lelaki lain dari garis pria Raden Mas (RM) - sampai generasi ketiga dari garis pria : Raden Mas (RM)
- setelah generasi keempat lain dari garis pria : Raden
Anak perempuan dari permaisuri - ketika belum dinikahkan Gusti
- ketika sudah dinikahkan Gusti Raden Ayu (GRAy)
- ketika sudah dewasa : Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan : (1)Sekar-Kedhaton, (2)Pembayun, (3)Maduratna, (4)Bendara, (5)Angger, (6)Timar - ketika belum dinikahkan : Gusti Raden Ajeng (GRA)
- ketika sudah dinikahkan : Gusti Raden Ayu (GRAy)

Anak perempuan dari selir - ketika belum dinikahkan : Bendara Raden Ajeng (BRA)
- ketika sudah dinikahkan : Bendara Raden Ayu (BRAy)
ketika sudah dewasa : Ratu Alit - ketika belum dinikahkan : Bendara Raden Ajeng (BRA)
- ketika sudah dinikahkan : Bendara Raden Ayu (BRAy)
Cucu perempuan dan keturunan perempuan lain dari garis pria - sebelum dinikahkan : Raden Ajeng (RA)
- sesudah dinikahkan : Raden Ayu (RAy) - sebelum dinikahkan : Raden Ajeng (RA)
- sesudah dinikahkan : Raden Ayu (RAy)


Selain beberapa gelar tersebut di atas, di lingkungan keraton sering juga dijumpai sebutan khusus seperti : Sekarkedhaton (untuk menyebut putri sulung permaisuri), Sekarsetaji (untuk putri kedua), Candrakirana (untuk putri ketiga).
Putra tertua dari seluruh garwa Ampeyan bergelar Bendara Raden Mas Gusti dan akan berubah menjadi Gusti Pangeran setelah diangkat menjadi pangeran. Sedangkan putri tertua dari seluruh garwa Ampeyan bergelar Bendoro Raden Ajeng Gusti dan akan berubah menjadi Pembayun setelah menikah. Khusus untuk putri sulung (tertua) dari garwa Ampeyan mendapat gelar Kanjeng Ratu.
10. Speech Level (bahasa bertingkat)
(bahasa bertingkat), misalnya bahasa ngoko, krama.
Penggunaan bentuk kata ganti orang pertama, di dalam keraton untuk menyatakan aku atau saya menggunkan kata ingsun, panjenenganinsun, manira, dan abdi dalem; sedangkan di luar keraton menggunakan kata aku, kula, kawula.
Penggunaan bentuk kata ganti orang kedua. Di dalam keraton untuk menyatakan kamu menggunakan kata sira, pakenira, sampeyan dalem, panjenengan dalem; sedangkan di luar keraton menggunakan kata kowe, sampeyan, panjenengan.
Untuk menyebut istilah mandi untuk orang yang lebih tua atau orang yang dihormati dengan istilah siram, sedangkan untuk diri sendiri atau orang yang lebih muda dengan istilan adus, pakpung. Menyebut istilah makan untuk orang yang lebih tua atau orang yang dihormati dengan istilah dhahar sedangkan untuk diri sendiri atau orang yang lebih muda dengan istilah nedha, nedhi, mangan, atau maem.
11. Onomatopoetic
Kata-kata onomatopoetic adalah kata yang dibentuk dari tiruan bunyi, misal : istilah ”greget” yang berarti perasaan sengit sehingga seolah-olah ingin menggigit orang yang menjadi sasaran kesengitan kita. Kata ”greget” itu dibentuk dengan mencontoh suara beradunya barisan gigi dari rahang atas dan bawah

12. Onomastis
Onomastis adalah nama tradisioanal jalan atau tempat tertentu yang punya legenda terbentuknya), misalnya : kata Mengoneng (salah satu dukuh di desa Bojongbata, Pemalang) berasal dari nama raja yang pernah berkuasa di Pemalang yaitu Mangun Oneng.
Nama tradisional jalan atau tempat tertentu yang punya legenda terbentuknya di daerah eks Karesidenan Surakarta adalah sebagai berikut :
Di daerah Gedhuwang, mempunyai karakter lemah bang gineblekan kutuk kalung kendho. Artinya, kalau dihormati mereka menghormati, kalau dikasari mereka lebih kasar, cenderung lebih suka hura-hura (berpesta). Selain itu ada juga istilah Kutuk yang artinya ikan gabus, dan Kalung kendho yang berarti tempat ikan. Di daerah Wiraka (Tirtamaya), petilasan Sultan Agung, mempunyai karakter ngethek seranggon. Artinya, seperti gerombolan kera, selalu hidup bergerombol-gerombol. Di daerah Wiratha, mempunyai karakter : asu galak ora nyathek. Di daerah Selogiri, mempunyai karakter bandhol ngrompol, yang berarti suka mengelompok (kayak perampok, ngegank). Dan di daerah Sragen terdapat istilah “Den Bagus” untuk menyebut tikus. Juga terdapat Jalan raya Sukowati, yang merupakan jalan utama di Sragen. Namanya diambil dari nama Pangeran Sukowati, yang merupakan pendiri bumi Sukowati (Sragen)

B. UNGKAPAN TRADISIONAL / PERIBAHASA
1. Petani dan peternak
Peribahasa Arti
Adhang-adhang tetesing embun njagakake barang mung saolehe wae
Aji godhong garing barang kang ora duwe aji babar blas
Ancik-ancik pucuking eri wong kang tansah sumelang yen kaluputan
Angon mangsa golek wektu sing prayoga
Arep jamure emoh watange gelem kepenake ora gelem rekasane
Bebek mungsuh mliwis wong pinter mungsuh wong pinter
Belo melu seton mung melu melu wae
Dadia suket suthik nyenggut emoh aruh
Digarokake dilukokake dikon nyambut gawe abot
Emprit abuntut bedhug prakara sepele dadi gedhe
Golek banyu bening golek pitutur sing becik
Jati ketlusuban ruyung golongane wong becik kelebon wong ala
Kacang mangsa ninggala lanjaran kelakuwane anak akeh-akehe niru wong tuwane
Kaya wedhus dimbar neng kacangan kesenengan amarga nemoni apa sing dibutuhake
Kebo ilang tombok kandhang wis kelangan isih tombok maneh
Kebo kabotan sungu wong tuwa sing rekasa amarga kakehan anak
Kebo mulih menyang kandhange wong lunga bali maneh menyang asale
Kebo nusu gudel wong tuwa njaluk wuruk marang wong enom
Kemladeyan ngajak sempal wong nunut marakake rusak
Krokot ing galeng wong sing mlarat banget
Kutuk nggendhong kemiri nyandhang sarwa aji ngliwati papan sing gawat
Milih-milih tebu boleng kakehan pilihan wusanane oleh sing ora becik
Opor bebek mentas awak dhewek mentas saka rekadayane dhewe
Ora ana banyu mili mendhuwur watake anak mesthi niru wong tuwane
Ora ngerti kenthang kimpule ora ngerti jalarane perkara
Pager mangan tanduran dipercaya malah ngrusak
Pandengan karo srengenge mungsuhan karo wong kuwasa
Pitik trondhol diumbar ing pedharingan wong ala diprasrahi tunggu barang aji
Sandhing kebo gupak sandhing wong ala bisa katut ala
Sembur-sembur adas siram-siram bayem bisa kaleksanan marga dongane wong akeh
Tebu tuwuh socane prekara wis becik dadi bubrah merga dirusuhi
Timun mungsuh duren wong ringkih mungsuh wong kuwat

0 komentar:

Poskan Komentar