Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Jumat, 28 Mei 2010

Geguritan (Puisi Jawa Modern) karya Yono HS

Geguritan karangan Yono Hs

Sepi

yen aku dhong lungguhan

dheke kang dadi seksi

yen aku dhong miwir lintang

dheke iku kang ngancani

yen aku dhong takon werdine urip

dheke kang ngewangi ngudharai

yen aku dhong tak tik tak tik

dheweke ora lungsi ngguyoni

lan setia ngandhani terusna kang

menawa ana asile kena nggo tuku kotang

ora ana wong cubriya.

Semarang, 20 Mei 1996

(Pustaka Candra. Edisi 197 1996/1997)

Kalabendu

tak sengguh kala bathara wus lebur

kisas karo bathara wisnu duk ing nguni

nanging tibake kok ora

abad nuklir lan globalisasi kok ya kaya-kaya

anake kalabendu

jalaran sajake dhengah uwong during siap mecak

yen wus siaga ngono ya no problem

balik sing during kok ya kaya gantine kalabendu

apa jangkane kalatidha tukul meneh

mandi tenan sabdane R. Ng. Ronggawarsito

kapan-kapan wae kalabendu bisa tukul maneh

anggere titah nora waspada

lan mung nuruti hawa.

Semarang, 12 April 1994

(Pustaka Candra. Edisi 193 1996/1997)

Timbang Mbentoyong

timbang mbentoyong mikir butuh

ambok luwih becik sendhonan

sendhon mbalung geni ngono dol … dol

mbalung geni mas … mbok menawa

tahun iki mas … aku bisa

mbalung gheni mas … mbok menawa

tahun ngarep mas … aku mulya

mbalung geni dhik … mbok menawa

aku kowe dhik … ora rekasa

mbalung geni dhik … mbok menawa

globalisasai dhik ra gawe kuciwa

mboke kampret mas … mbok menawa

muga-muga kabeh titah kalis ing sambekala

oh hiya cocok-cocok

wis … wis mengko yen kelantur-lantur dhik

Semarang, 12 April 1994

(Pustaka Candra. Edisi 193 1996/1997)

Aja seneng ngumpetake dalan

dadi guru aja seneng ngumpetake dalan

dimen muride ndalan

dadi wong gedhe aja seneng ngumpetake dalan

dimen tembayatan ndalan

dadi dagang aja seneng ngumpetake dalan

dimen nora kepedhotan dalan

dadi wong taniaja ngumpetake dalan

dimen asile kena wareg dipangan

dadi panderek aja seneng ngumpetake dalan

mengko yen malah bingung tubrukan

dadi pepuntone atur

kabeh kabneh aja seneng ngumpetake dalan

mengkone mundhak kedrawasan

mudheng ra lurrr.

Semarang, 20 Mei 1996

(Pustaka Candra. Edisi 197 1996/1997)4

Timbang Mbentoyong

timbang mbentoyong mikir butuh

ambok luwih becik sendhonan

sendhon mbalung geni ngono dol … dol

mbalung geni mas … mbok menawa

tahun iki mas … aku bisa

mbalung gheni mas … mbok menawa

tahun ngarep mas … aku mulya

mbalung geni dhik … mbok menawa

aku kowe dhik … ora rekasa

mbalung geni dhik … mbok menawa

globalisasai dhik ra gawe kuciwa

mboke kampret mas … mbok menawa

muga-muga kabeh titah kalis ing sambekala

oh hiya cocok-cocok

wis … wis mengko yen kelantur-lantur dhik

Semarang, 12 April 1994

(Pustaka Candra. Edisi 193 1996/1997)

Ing kutha gedhe

Kabeh paraga dha nduweni lara bisu

Jalaran angger pethuk mung kaya semut

Onthak-anthuk thok

Ditakoni malah tudang-tuding

Kaya wong pancingen, apa ngene iki sing jenenge egois ki.

Semarang, 12 April 1994

(Pustaka Candra. Edisi 193 1996/1997)

Analisa geguritan karangan Yono Hs.

Setelah membaca dan menganalisis beberapa geguritan karangan Yono Hs, dapat diambil kesimpulkan bahwa Yono Hs ini mempunyai ciri khas tersendiri dalam membuat karya-karyanya terutama yang berupa geguriatan. Pada geguritan karya-karyanya ini cenderung menggunakan makna-makna kiasan dan gaya-gaya bahasa, sehingga geguritan karyanya tersebut terasa lebih indah dan menarik.

Seperti pada geguritan yang berjudul Timbang mbentoyong ini jika dlihat dari pilihan kartanya bermakna konotatif karena pada geguritan ini penggunaan makna kiasan sangat berperan penting dalam menambah keindahan geguritan tersebut. Dengan penggunaan kata-kata tersebut mampu menghasilkan imaji tambahan sehingga yang abstrak menjadi konkret dan menjadikan puisi lebih indah dan nikmat untuk dibaca. Misalnya pada kalimat timbang mbentoyong mikir butuh.sedangkan

Pada geguritan karya Yono Hs yang berjudul Aja seneng ngumpetake dalan ini, pengulangan bunyi terjadi berkali-kali pada setiap baris Dilihat dari bentuk puitisnya, geguritan ini cenderung menggunakan bentuk penuturan atau kata berupa pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Melalui pesan tersebut, diharapkan pembaca dapat mengerti dan memahami maksud dari pesan tersebut dan dapat melaksanakanya dal;am kehidupan sehari-hari.

Dilihat dari pilihan katanya, geguritan ini mengggunakan makna-makna konotasi. Biasanya seorang penulis dalam membuat karyanya cenderung menggunakan makna kiasan karena penggunaan makna kiasan tersebut digunakan oleh penulis untuk memperindah bahasa dan kata-kata dalam karya tersebut.

Pada geguritan karya Yono Hs yang berjudul Sepi ini, pengulangan juga terjadi berkali-kali. Pengulangan tersebut disebut rima awal, karena pengulangan terjadi pada awal baris. Pada geguritan ini, pengulangan sangat penting sekali dan merupakan aspek yang ditonjolkan untuk memperindah dan memperjelas geguritan ini.

Geguritan ini juga menggunakan gaya bahasa, yaitu metafora. Contohnya pada kalimat, yen aku dhong miwir lintang. Gaya bahasa metafora digunakan dimaksudkan untuk melukiskan atau mengatakan sesuatu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang lain sehingga dengan cara tersebut, pembaca akan lebih dapat menangkap maksud yang diharapkan penulis. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, geguritan ini akan menjadi lebih menarik dan lebih indah.

Sedangkan pada geguritan karya Yono Hs yamg berjudul Ing kutha gedhe, ini dapat dikategorikan sebagai puisi yang bentuknya tidak terlalu panjang. Penulis mencoba untuk memadukan diksi atau kata yang bersifat puisi. Pemilihan kata ini sangatmentukan makna dari puisi. Bentuk bahasa yang digunakan adalah kiasan atau konotatif. Puisi ini berbentuk penuturan penyampaian pesan. Dalam geguritan ini, strata bentuk yang digunakan berupa keluhan-keluhan dan sindiran-sindiran. Sindiran-sindiran yang digunakan menggunkan gaya bahasa metafora, dimana gaya bahasa ini adalah suatu makna atau cara yang dimaksudkan untuk melukiskan atau mengatakan sesuatu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang lain sehingga dengan cara tersebut, pembaca akan lebih dapat menangkap maksud yang diharapkan penulis.

Geguritan yang berjudul kalabendu ini jika dlihat dari pilihan katanya bermakna konotatif karena pada geguritan ini penggunaan makna kiasan sangat berperan penting dalam menambah keindahan geguritan tersebut. Dengan penggunaan kata-kata tersebut mampu menghasilkan imaji tambahan sehingga yang abstrak menjadi konkret dan menjadikan puisi lebih indah dan nikmat untuk dibaca.

Jadi pada umumnya geguritan karya-karyanya Yono Hs ini, tipografi sangat penting sekali. Tipografi ini berupa penulisan yang menggunakan huruf-huruf kecil semua. Mungkin hal tersebut dimaksudkan untuk menandai ciri khas karya-karya yang berbeda dari karya-karya sastrawan lainnya.

Selain itu hal yang paling menonjol sekali dan menjadi ciri khas dalam geguritan karya Yono Hs ini adalah penggunaan tipografi yang sengaja dibuat hurufnya kecil-kecil semua, dan pengulangan-pengulangan bunyi yang terjadi berkali-kali pada setiap baris. , tipografi sangat penting sekali. Tipografi ini berupa penulisan yang menggunakan huruf-huruf kecil semua. Mungkin hal tersebut dimaksudkan untuk menandai ciri khas karya-karya yang berbeda dari karya-karya sastrawan lainnya.

Selain itu, geguritannya juga cenderung berisi keluhan-keluhannya ketika menghadapi hidup, kejadian-kejadian yang terjadi pada kehidupan sehari-hari serta pesan-pesan yang disampaikannya ketika melihat dan menghadapi fenomena yang seperti itu. Hal tersebut disampaikannya melalui sebuah karyanya yang berbentuk geguritan.

.

.


0 komentar:

Poskan Komentar