Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Jumat, 28 Mei 2010

jenis-jenis wayang

Jenis wayang dan macamnya:
Wayang Suket, merupakan bentuk tiruan dari berbagai wayang kulit yang terbuat dari rumput atau suket. Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa. Sebenarnya wayang Suket merupakan dolanan anak-anak yang ada di desa. Ketika kerbau, sapi atau kambing sibuk makan rumput, bocah angon (anak gembala) mencoba menirukan para dalang yang memainkan wayang. Jadilah, rumput-rumput di sekitarnya dimanfaatkan untuk dijadikan model wayang, layaknya seorang dalang. Wayang ini dinamakan wayang suket karena wayang yang dimainkan terbuat dari rumput atau suket. Di sini rumput yang biasa digunakan untuk memebuat wayang suket ini adalah rumput teki, rumput gajah atau mendong, alang-alang yang biasa dianyam jadi tikar.
Wayang Madya, merupakan wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita wayang purwa dan wayang gedog. Cerita wayang madya merupakan peralihan cerita wayang purwa kecerita panji. Salah satu cerita wayang madya yang terkenal adalah cerita angling dharma. Selain itu wayang madya juga menceritakan sejak wafatnya Prabu Yudayana sampai Prabu Jayalengkara naik tahta.
Wayang Purwa, merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang tokoh.. agar lembaran wayang itu tidak lepas, maka digunakan kerangka penguat yang membuatnya menjadi kaku. Kerangka itu disebut ”cempurit” yang terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu. Pagelaran wayang kulit purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi wanitanya disebut pesinden yang menyanyikan gending-gending tertentu disebut pesinden atau warangga.
Wayang Gedog, atau Wayang Panji adalah wayang yang memakai cerita dari serat Panji. Wayang ini mungkin telah ada sejak zaman Majapahit. Bentuk wayangnya hampir sama dengan wayang purwa. Tokoh-tokoh kesatria selalu memakai tekes dan rapekan. Tokoh-tokoh rajanya memakai garuda mungkur dan gelung keling. Dalam cerita Panji tidak ada tokoh raksasa dan kera. Sebagai gantinya, terdapat tokoh Prabu Klana dari Makassar yang memiliki tentara orang-orang Bugis. Namun, tidak selamanya tokoh klana berasal dari Makassar, terdapat pula tokoh-tokoh dari Bantarangin (Ponorogo), seperti Klana Siwandana, kemudian dari Ternate seperti prabu Geniyara dan Daeng Purbayunus, dari Siam seperti Prabu Maesadura, dan dari negara Bali.
Dalam pementasannya, wayang gedog memakai gamelan berlaras pelog dan memakai punakawan Bancak dan Doyok untuk tokoh Panji tua , Ronggotono dan Ronggotani untuk Klana, dan Sebul-Palet untuk Panji muda. Seringkali dalam wayang gedog muncul figur wayang yang aneh, seperti gunungan sekaten, siter (kecapi), payung yang terkembang, perahu, dan lain-lain. wayang ini dinamakan wayang gedog karena kebanyakan tokoh dalam wayang ini memakai kuda sebagai kendaraannya.
Wayang Krucil, wayang krucil tak jauh beda dengan wayang kulit, hanya bahan bakunya yang berbeda. Wayang kulit terbuat dari kulit binatang, sedangkan wayang krucil dari kayu. Namun sebenarnya wayang krucil dengan wayang kulit mempunyai banyak perbedaan, jika wayang kulit cerita yang diambil ramayana atau kisah mahabarata, namun untuk wayang krucil berisikan sejarah bangsa dan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Pementasan wayang krucil sendiri dimulai dengan Tari Remong yang diiringi dengan tembang-tembang Jawa. Selesai Tari Remong giliran sang dalang untuk mengelar pentas. Sebelum memainkan wayang-wayang krucil terlebih dahulu sang dalang memainkan dua buah wayang golek yang bertindak sebagai waranggono dan sindennya.
Wayang Klitik, adalah wayang yang terbuat dari kayu. Berbeda dengan wayang golek yang mirip dengan boneka, wayang klitik berbentuk pipih seperti wayang kulit. Cerita wayang klitik juga berbeda dengan wayang kulit. Di mana cerita wayang kulit diambil dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, sedangkan cerita wayang klitik diambil dari siklus cerita Panji dan Damarwulan. Dalam adegan ini Damarwulan dan Anjasmara berhadapan dengan Raden Layang Seto dan Layang Kumitir. Ciri khas dari wayang ini adalah dalang kalau memerannkan adegan perang dengan tarikan,sulukan dengan tembang mocopat. Adapun dialog perakapan seprti wayang purwa.Timbulnya kesenian ini sejak kerajaan Singosari,

Wayang Wong, lahir di Surakarta pada jaman pemerintahan Mangkunegara I ( Pangeran Sambernyawa). Wayang wong dikalangan istana dan bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan wayang orang yang mengadakan pertunjukan di pasar-pasar malam atau taman-taman hiburan lainnya. Di lingkungan istana wayang orang ini digelarkan di pendapa sedangkan di luar istana digelarkan di panggung prosencium dan bahkan telah pula mempergunakan sarana-sarana pentas yang lengkap pula. dialog yang digunakan adalah dialaog bentuk prosa dengan gaya yang mirip pecakapan sehari-hari.
Pada dasarnya, cerita atau peran yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang orang tidak berbeda dengan wayang kulit. Biasanya lakon yang dibawakan adalah lakon dalam cerita epik seperti Mahabrata dan Ramayana. Bedanya jika dalam wayang kulit peran itu ditampilkan dalam sosok wayang, maka dalam wayang orang lakon atau peran semacam itu dibawakan oleh orang atau wong dalam bahasa jawa. Sedangkan tugas dalang wayang wong tidak jauh berbeda dengan dalang wayang kulit. Namun tugas dayang wong lebih ringan karena para pelakon melakukan percakapan sendiri. Dalang wayang wong hanya menyampaikan sedikit narasi baik ketika membuka pertunjukan, di tengah pertunjukan atau di akhir pertunjukan.
Wayang wong memiliki gerakan-gerakan tertentu yang harus dipatuhi oleh para penarinya. Untuk para penari laki-laki, beberapa gerakannya adalah alus, gagah, kambeng, bapang, kalang kinantang, kasar, gecul, kambeng dengklik, dan kalang kinantang dengklik. Sedangkan gerakan para penari perempuan sering disebut nggruda atau ngenceng encot. Ada 9 gerakan dasar atau joged pokok yang ditampilkan para penari wanita serta 12 joged gubahan atau gerakan tambahan serta joged wirogo yang memperindah tarian yang ditampilkan. Wayang wong ini diciptakan setelah wayang kulit oleh Raden Panji Asmarabangun, putra Lembu Amiluhur yaitu raja dari kerajaan Jenggala

0 komentar:

Poskan Komentar