Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Jumat, 28 Mei 2010

Grebeg Besar (Surakarta)

Grebeg Besar (27 November 2009), Grebeg berasal dari kata “Ginarebeg” yang artinya “Ratu tindak kairing kerabat, Sentana sarta abdi-abdi dalem”. Grebeg Besar dilaksanakan pada tanggal 10 dzulhijah atau bulan jawa “Besar”. Fungsinya adalah untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Dalam iring-iringan ini para kerabat dan abdi dalem membawa gunungan dari Keraton ke Masjid Agung.

Ada ketentuan tertentu untuk orang yang mengikuti grebeg besar yaitu, harus mengenakan pakaian hitam, samir (merah dan kuning) dan tidak boleh menggunakan sinjang (jarik) lorek karena sinjang lorek merupakan tingkatan tertinggi dalam keraton. Adapun filsafat warna yang digambarkan berkaitan dengan nafsu, merah berarti marah, kuning berarti aluamah, hitam berarti sempurna dan putih berarti suci. Perpaduan kuning dan merah berarti aluamah harus yang waton atau yang benar. Jika marah tidak boleh asal marah, tetapi harus waton atau secara benar. Makanpun juga harus benar, tidak boleh asal makan. Sedangkan alasan tidak boleh menggunakan sinjang lorek karena perpaduan warna putih dan hitam berarti memadukan suci dan sempurna. Jika sudah mencapai suci dan sempurna berarti sudah tinggi tingkatanya karena itu orang biasa tidak boleh menggunakanya.

Dalam upacara grebeg biasanya tedapat gunungan wedhok dan gunungan lanang. Aspek kultural yang tergambar dalam sepasang gunungan lanang dan wedhok tersebut , yaitu sebagai perwujudan lingga-yoni atau lambang kesuburan. Gunungan-gunungan pada grebeg biasanya dibuat dari palawija dan makanan atau jajanan tradisional, sayur dan hasil tanaman para petani. Setelah dido’akan oleh imam masjid, gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh para warga. Karena menurut kepercayaan jika ada orang yang mendapat isi dari gunungan tersebut maka bisa mendapatkan berkah dan sebagai sarana untuk menyelamatkan tanaman dari hama.

0 komentar:

Poskan Komentar