Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Jumat, 04 Juni 2010

Upacara Ruwatan


Upacara ruwatan atau “Ngruwat” berasal dari kata “luwar” atau lepas, dilepaskan atau dibebaskan. Jadi meruwat berarti melepaskan, membebaskan atau menolak dan menghindarkan malapetaka yang diramalkan akan menimpa dirinya. Tentu saja tak seorangpun manusia mengharapkan sesuatu malapetaka menimpa dirinya. Untuk itu berbagai daya upaya dilakukan dan ditempuhnya agar hidupnya tenteram, bahagia serta terhindar dari segala mara bahaya dan kesulitan.

Bagi yang percaya kadang kala orang tidak segan-segan mengeluarkan biaya banyak untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan jiwanya. Bahkan ada yang berpedoman: “Uang dapat dicari, tetapi keselamatan lahir dan ketentraman batin lebih penting arinya.” Karena itulah banyak orang yang tidak mau meningalkan adat istiadat dan tradisi (meruwat) yang telah dipegang teguh dan dihayati sejak zaman nenek moyang kita.

Menurut Kepustakan “Pakem Pengruwatan Murwa Kala), bahwa orang yang harus diruwat itu disebut “Sukerta”. Ada 60 macam penyebab malapetaka dari sukerta yang dapat dihindari dengan jalan diruwat. Ke 60 jenis orang yang harus diruwat atau sukerta tersebut adalah:

¥ Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “dandang” (tempat menanak nasi).

¥ Memecahkan “pipisan” dan mematahkan “gandik” (alat untuk landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramuan-ramuan obat tradisional).

¥ “Uger-uger lawang”, yaitu dua orang anak, yang keduanya laki-laki dengan catatan tidak ada anak yang meninggal.

¥ Anak bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (“plasenta”).

¥ Anak kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putrid atau kembar “dampit”. Yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan)

¥ “Kembang sepasang”, atau sepasang bunga, taitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.

¥ “Kedhana-kedhini”, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

¥ “Ontang-anting”, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

¥ “Sendang kapit pancuran”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu laki-laki, sedang anak yang ke 2 adalah perempuan.

¥ “Pancuran kapit sendang”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu perempuan, sedang anak yang ke 2 adalah laki-laki.

¥ “Saramba”, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.

¥ “Simpi”, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.

¥ “Mancalaputra” atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.

¥ “Mancalputri”, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.

¥ “Pipilan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang perempuan dan seorang laki-laki.

¥ “Padangan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan seorang perempuan.

¥ ”Julung pujud”, yaitu anak yang lahir pada saat matahari terbenam.

¥ “Julung sungsang”, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.

¥ “Julung wangi”, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.

¥ “Tiba ungker” bayi yang lahir, kemudian meninggal.

¥ “Jempina”, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.

¥ “Tiba sampir”, anak yang lahir berkalung usus.

¥ ”Margana”, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.

¥ “Wahana”, yaitu anak yang lahir dalam halaman atau pekarangan rumah.

¥ “Siwah/salewah”, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.

¥ “Bule”, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”.

¥ “Kresna”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.

¥ ”Walika”, yaitu anak yang lahir berujud bajang/kerdil.

¥ “Wungkuk”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.

¥ “Dengkak”, yaitu anak yang lahir punggungnya menonjol seperti punggung onta.

¥ “Wujil”, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol/pendek.

¥ “Lawang menga”, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya ‘candikala’ yaitu ketika langit merah kekuning-kuningan.

¥ “Made”, yaitu anak yang lahir tanpa alas/tikar.

¥ Orang yang bertempat tinggal dalam rumah yang tidak ada “tutup keyong”nya.

¥ Orang yang tidur diatas kasur tanpa sprei (penutup kasur).

¥ Orang yang membuat pepajangan / dekorasi tanpa samir/ daun pisang.

¥ Orang yang memiliki lumbung / gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.

¥ Orang yang menempatkan barang disuatu tempat (“dandang misalnya”) tanpa ada tutupnya.

¥ Orang yang membuang kutu masih hidup.

¥ Orang berdiri ditengah-tengah piuntu.

¥ Orang yang duduk didepan(ambang) pintu.

¥ Orang selalu bertopang dagu.

¥ Orang yang gemar membakar kulit bawang.

¥ Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya panici dengan panic).

¥ Orang yang senang membakar rambut.

¥ Orang yang senang membakar tikar dari bamboo (“galar”).

¥ Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.

¥ Orang yang senang membakar tulang.

¥ Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.

¥ Orang yang suka membuang garam.

¥ Orang yang senang membuang sampah / kotoran di bawah (dikolong) tempat tidur.

¥ Orang yang membuang sampah lewat jendela.

¥ Orang tidur pada waktu matahari terbit.

¥ Orang tidur pada waktu matahari terbenam.

¥ Orang yang memenjat pohon pada waktu siang bolong (jam 12 siang).

¥ Orang yang tidur diwaktu siang hari (jam 12 siang)

¥ Orang yang senang manenek nasi, kemudian ditinggal pergi ke tetangga.

¥ Orang yang suka mengaku hak orang lain.

¥ Orang yang sering meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat menumbuk padi).

¥ Orang yang lengah, sehingga mereobohkan jemuran “wijen” biji-bijian

Demikian 60 jenis “sukerta”, yaitu jenis-jenis manusia yang dijanjikan oleh sang Hyang Betara Guru kepada Betara Kala untuk menjadi santapan atau makanannya. Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam criteria tersebut diatas menghindarkan diri dari malpetaka (menjadi makanan Batara Kala) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan / ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon ruiwatan yang lain misalnya: Baratayuda, Sudamal, Kunjarakarna, dan lain sebagainya.

Lepas dari percaya atau tidak percaya, tetapi tampak jelas bahwa salah satu fungsi pertunjukan wayang adalah suatu kegiatan yang ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat religius. Karena yang memegang pernan dalam lakon-lakon Murwakala atau ruwatan ini adalah Kandhabuwana (Wisnu) dan Siwa, maka tentu dengan sendirinya wayangan dengan lakon Murwakala itu semula tentu ada hubungan dan kaitanya dengan agama aliran Siwa dan atau Wisnu, Budha dan sebagainya.

Adapun sajen-sajen yang biasanya disertakan dalam upacara ruwatan yaitu menurut Pakem Murwakala ada 36 jenis perlengkapan sajen antara lain :

¥ Tuwuhan, yaitu pisang, cengkir atau kelapa muda dan pohon tebu masing-masing dua pasang yang diletakkan dikanan-kiri kelir atau layar.

¥ Padi sagedheng = 4 ikat padi sebelah menyebelah.

¥ 1 buah kelapa yang sedang tumbuh / bertunas sebelah menyebelah.

¥ 1 batang tebu.sebelah menyebelah.

¥ 2 ekor ayam (betina dan jantan) yang diikat pada “tuwuhan” dikanan-kiri kelir (lihat no.1).

¥ 4 batang kayu “Walikulun” yang masing-masing panjangnya kurang lebih 1 hasta.

¥ ungker siji = 1penggulung benang.

¥ 4 buah ketupat pangluwar ( = pembebas atau penolak)

¥ 1 lembar tikar (yang baru)

¥ 1 bantal (yang baru)

¥ Sisir rambut

¥ Suri (sisir khusus untuk mencari kutu rambut)

¥ Cermin

¥ Payung

¥ Minyak wangi sundul langit

¥ 7 macam kain batik (“jarit”) yaitu: Poleng bang sadodot; tuwuh watu; dringin; songer; liwatan; gadhung melathi; pandan binetot.

¥ Daun lontar satu gengganm

¥ 2 pisau dari baja.

¥ Dua butir telur ayam

¥ “Gedhang ayu” (pisang yang sudah masak, yang biasanya pisang pulut atau pisang raja); suruh ayu saadune (sirih dengan kelengkapanya); krambil grondil (kelapa tan sabut (“sepet”); gula setangkep (gula merah /jawa satu pasang); beras sapitrah (beras sebanyak untuk fitrah); ayam panggang; “tindhihe duwit salawe uwang” (“tindih” –uang yang diletakkan diatas “sajen”/ sajian sebanyak 25 wang)

¥ Air tujuh macam: air bunga setaman yang ditempatkan dalam jambangan baru dan dimasuki uang sebanyak 2 wang.

¥ Seikat benang lawe

¥ Minyak kepala untuk blencong

¥ Nasi wuduk (gurih), dan daging ayam di “lembarang” (dimasak dengan santan dan bumbu)

¥ Satu guci badheg ( = arak kiang aren atau minuman keras)

¥ Satu guci tetes (kiloang tebu)

¥ Tujuh macam nasi tumpeng, yaitu: magana, rajeg dom, pucuk ndok, pucuk lombok abang/cabe merah, tutul, sembur, belang.

¥ Tujuh macam jadah. Misalnya jenang dodol, wajik,dan lain sebagainya.

¥ Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam)

¥ Ketupat lepet

¥ Legondoh

¥ Pula gimbal, pula gringsing

¥ Jenang abang, jenang bawok, jenang lemu (bermacam-macam bubur)

¥ Rujak legi, rujak crobo

¥ Gecko mentah, gecko bakal, gecko lele urip (sesajian/ “sesajen” berupa cacahan daging / ikan mentah.)

¥ Dandang sasaput-prantine wong olah-olah (dandang atau alat untuk menanak nasi beserta alat-alat memasak)

¥ Kendhi isi banyu kebak (kendi yang diisi air sampai penuh)

¥ Diyan anyar kang murub (pelita baru yang dinyalakan)

Sama seperti upacara ruwatan yang ada di jawa lainnya, di Kendal ada upacara ruwatan untuk kedana kedini, anak tunggal, kembang sepasang. Ruwatan ini bertujuan agar anak yang lahir tersebut tidak dimakan oleh bethara kala sehingga diruwat(dislameti). Ruwatan di kabupaten Kendal dapat melalui media wayang, dari media tersebut diharapkan anak tersebut dapat selamat dari ancaman bethara kala. Tata upacaranya adalah sebagai berikut:

¥ Orang yang akan diruwat didandani layaknya seorang mayat

¥ Orang tersebut tidur ditengah pertunjukkan wayang

¥ Di tepi pertunjukkan wayang di beri sesaji berupa dupa atau menyan dan kembang tujuh rupa (bertujuan agar upacara tersebut rumesep/tenang)

¥ Setelah tangggapan wayang selesai orang tersebut didoakan oleh masyarakat yang menonton

¥ Setelah acara berdoa bersama selesai orang yang diruwat tersebut dapat menikmati hidangan bersama masyarakat sekitar (syukuran).

Ruwatan adalah tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/ kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya.

Kalau kita lihat prasyarat ruwatan maka hampir semua kita pasti harus diruwat, ini menunjukan bahwa kita harus selalu "eling" juga untuk bersedekah untuk selamat, ini sebetulnya bisa dilakukan tanpa harus mengikuti upcara ruwatan itu sendiri karena ketenangan itu ada didalam hati masing masing.

Ruwatan selalu dikaitkan dengan Batara Kala, sebetulnya intinya adalah "Kala" yang artinya waktu, setiap orang pasti takut dengan waktu. Contoh yang paling sederhana seperti seorang gadis yang cantik, pasti setelah berlalu misal 40 tahun maka kecantikannya akan hilang, bisa diibaratkan kecantikannya dimakan "Kala", setiap barang juga akan usang dimakan "kala" dan hanya yang pasrah serta sadar akan hukum alam yang akan malaluinya dengan tenang. Ketenangan batin juga bisa dikaitkan dengan banyaknya perbuatan baik yang dilakukannya karena setiap manusia pasti pernah merasa bersalah dan amal perbuatan baiklah yang akan menyelamatkannya.

Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita "wayang" dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut.

Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi ,agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/ purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).

Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sbb :

¥ Alat musik jawa (Gamelan)

¥ Wayang kulit satu kotak (komplit)

¥ Kelir atau layar kain

¥ Blencong atau lampu dari minyak

Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:
Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.

Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

Bermacam-macam nasi antara lain :

¥ Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb.

¥ Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.

¥ Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

¥ Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

¥ Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

¥ Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.

¥ Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

¥ Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

¥ Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.

¥ Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.

¥ Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.

Didaerah Kendal upacara ini selain berfungsi seperti tersebut diatas dapat difungsikan sebagai upacara (slameti) anak yang lahir kedana kedini, anak tunggal, dan kembang sepasang.

0 komentar:

Poskan Komentar