Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Jumat, 18 Juni 2010

Penerapan Teori Hermeneutika Pada Cerita Jaka Tarub

Seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan awal mengenai teori Hermeneutika oleh Gadamer mengenai pemahaman atau interpretasi mengenai karya seni atau karya sastra baik secara lisan maupun tulis pada dasarnya berkaitan dengan hubungan antarmakna dalam sebuah teks, serta pemahaman tentang realitas yang kita perbincangkan. Dengan inilah yang dimaksud dengan dinamika perpaduan berbagai macam factor dalam sebuah bahasa yang dapat kita gunakan untuk mengkaji makna dalam setiap symbol yang ada dalam media bahasa tersebut. Faktor- factor yang dimaksud itu antara lain :

1. Bildung

Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni, sejarah weltanschauung (pandangan dunia), pengalaman, ketajaman pikiran, dunia eksternal, kebatinan, ekspresi atau ungkapan, style atau gaya dan simbol, yang kesemuanya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. Kata bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari pada sekedar kultur atau kebudayaan, bahkan mempunyai arti dalam konotasi yang lebih tinggi. Seperti alam, bildung tidak mempunyai tujuan akhir selain dirinya sendiri, sejauh kata bildungziel, mempunyai tujuan untuk meluaskan pengertian kata bildung tersebut. Bildung adalah sebuah gagasan historis asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan, selama seni dan sejarah masuk dalam bildung (kebudayaan), orang akan melihat dengan mudah hubungan antara bildung dan hermeneutik. Tanpa bildung orang tidak akan dapat memahami ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan.

Tentunya dalam cerita Jaka Tarub ini yang dimaksud bildung adalah segala hal-hal yang juga ada hubungannya dengan kebudayaan Jawa yang lekat sekali pada zaman pada saat adanya cerita itu terjadi. Dalam cerita rakyat Jaka Tarub ini, ada beberapa makna dalam simbol yang erat kaitannya dengan bildung. Adapun simbol-simbol yang akan ditafsirkan dalam cerita Jaka Tarub ini antara lain:

a. Selendang

Dalam cerita Jaka Tarub, diceritakan Jaka Tarub mengambil selendang Dewi Nawangwulan yang akhirnya disimpan dibawah tumpukan ketan hitam. Disini makna dari simbol selendang pada masyarakat Jawa yang dipakai oleh para wanita, khususnya Dewi Nawangwulan ditafsirkan adalah sebuah kehormatan dan kesucian. Pada zaman dahulu, biasanya pemakaian selendang selalu berpasangan dengan kain jarik atau tapih. Sedangkan jarik atau tapih yang digunakan bersamaan dengan selendang itu sendiri selalu digunakan untuk menutup tubuh. Jadi, pemakaian kata selendang dapat disimpulkan sebuah kehormatan, keindahan, keanggunan atau kesucian.

b. Tulup

Dalam cerita rakyat jaka tarub ini, diceritakan bahwa Jaka Tarub memperoleh senjata Tulup Tunjung Lanang ini dari orang tua yang ditemuinya di tengah hutan. Tulup kemudian selalu dibawa dan digunakannya untuk berburu, hingga bertemu dengan Dewi Nawangwulan. Makna symbol tulup di sini adalah melambangkan tentang kekuatan, kekokohan tekad seorang pria dalam mencari atau memperoleh apa yang diinginkan.

c. Anjang-anjang

Makna simbol anjang-anjang di sini adalah sebuah, kepercayaan, keamanan dan kenyamanan. Dalam cerita Jaka Tarub ini diceritakan bahwa saat Dewi Nawangwulan akan pergi meningggalkan Jaka Tarub dan Dewi Nawangsih, beliau berpesan agar Jaka Tarub membuatkan anjang-anjang untuk meletakkan Dewi Nawangwulan setiap malam saat akan disusui oleh Dewi Nawangwulan. Anjang-anjang umumnya terbuat dari kayu, bambo, atau yang lainnya. Anjang-anjang memiliki dua atau lebih tiang penyangga yang kokoh dan kuat. Menurut interpretasi penafsir di sini digambarkan bahwa Dewi Nawangwulan percaya kepada Jaka Tarub untuk mengasuh putri mereka menjadi anak yang baik. Jaka Tarub dinilai mampu memberikan keamanan dalam menjaga Dewi Nawangsih, sehingga Dewi Nawangsih nyaman.

d. Taruban

Seperti yang telah diceritakan dalam cerita Jaka Tarub, ketika Jaka Tarub masih bayi dimasukkan dalam bokor yang diletakkan di dekat makam Aryo Penanggungan. Dalam hal ini makna dari symbol Taruban adalah kesederhanaan. Dikatakan memiliki makna kesederhanaan karena dalam kepercayaan masyarakat Desa Tarub, khususnya dalam pepalih yang dipercaya apabila ada salah seorang warga saja yang mendirikan taruban dalam hajatan, maka biasanya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk itu mereka lebih memilih untuk tidak mendirikan taruban. Selain itu, dimaknai dengan sebuah kesederhanaan, karena adanya pertimbangan pula bahwa sebagian besar warga Desa Tarub yang hidup sederhana.

e. Bokor

Dalam cerita Jaka Tarub ini ini diceritakan bahwa, semasa bayi Jaka Tarub diletakkan oleh ayahnya di dalam bokor kencana kemudian di tinggal di dekat makam Aryo Penanggungan. Bokor terbuat dari tembaga atau logam yang kuat. Maka dari itu bokor tidak mudah bocor. Dengan demikian bokor mempunyai makna simbolik yaitu kekuatan.

2. Sensus Communis

Gadamer menggunakan ungkapan ini bukan sebagai pendapat umum atau pendapat kebanyakan orang pada umumnya. Menurut pengertiannya yang mendasar, istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. Hidup di dalam suatu komunitas atau kelompok masyarakat memperkembangkan suatu pandangan tentang kebaikan yang benar dan umum. Sejarawan memerlukan sensus komunis semacam ini dengan maksud untuk memahami arus yang mendasari pola sikap manusia. Sejarah pada dasarnya tidak berbicara tentang seorang manusia yang terpencil, tetapi berbicara tentang kelompok manusia atau komunitas. Demikian juga dengan kesusastraan. Sebuah karya sastra, yang temanya bersifat universal atau yang menggambarkan keadaan manusia, layak untuk dihargai. Gadamer sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus komunis adalah pandangan tentang kebaikan umum, cinta komunitas, masyarakat, atau kemanusiaan. Sensus communis adalah kebijaksanaan dalam pergaulan sosial. Melalui sensus communis orang memperkembangkan pandangan tentang kebaikan umum atau cinta kemanusiaan.

Kaitannya dengan cerita Jaka Tarub, tentunya dalam komunitas sosial, pandangan antara orang yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Hal ini menimbulkan multitafsir. Dengan adanya multitafsir tersebut tentunya akan sulit mengambil inti cerita, jadi diperlukan sebuah kesimpulan atau kesepakatan sebagai titik temu untuk menjelaskan cerita tersebut. Penerapannya dalam cerita ini yaitu terdapat konsep pemikiran masyarakat tentang Jaka Tarub yang terkenal dengan perbuatannya “mencuri” selendang, padahal apabila dibandingkan dengan pendapat narasumber cerita rakyat ini dan sebagian besar masyarakat Desa Tarub, tindakan Jaka Tarub tersebut adalah “meminjam”. Mereka tidak mau mengatakan Jaka Tarub “mencuri”. Ada sebuah anggapan yang sangat kontras mengenai tindakan Sunan Tarub atau Ki Ageng Tarub yang tidak mungkin mencuri. Mereka lebih senang menyebut Ki Ageng Tarub ”meminjam”.

Dari dua hal yang telah dipaparkan diatas telah ditemukan konsep pemikiran yang berbeda mengenai tindakan Ki Ageng Tarub tersebut. Namun, dalam konsep pemikiran masyarakat awam di luar Desa Tarub dari dulu sampai pada saat ini, tindakan Ki Ageng Tarub tersebut yang mereka tahu adalah “mencuri”. Jadi konsep pemikiran mencuri dijadikan sebagai konvensi atau kesepakatan yang dipakai oleh masyarakat awam sebagai titik temunya.

3. Pertimbangan

Konsep pertimbangan mirip dengan sensus communis dan selera. Pertimbangan sifatnya adalah universal, namun bukan berarti berlaku umum. Seperti halnya sensus communis yang dianggap sebagai harta universal, kemanusiaan namun juga tidak juga digunakan secara umum. Pertimbangan juga bersifat universal, tetapi hanya sedikit orang saja yang kiranya memilliki hal itu serta mempergunakannya sebagaimana mestinya. Pertimbangan dan sensus communis keduanya merupakan interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. Melalui pertimbangan orang dapat memilah-milah macam-macam peristiwa.

Gadamer sepakat dengan Immanuel Kant tentang pembinaan praktis yang dihubungkan dengan pengertian estetis atau nilai estetis. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal, dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan, konsep, prinsip, dan hukum-hukum yang dapat diolah manusia.

· Bidadari

Seperti yang telah dipaparkan di atas pertimbangan menurut Gadamer ini berhubungan dengan nilai estetis, atau nilai yang mengandung keindahan. Berkenaan dengan hal pertimbangan mengenai bidadari ini memiliki dua makna, yaitu :

1. Bidadari adalah sosok yang digambarkan memiliki keindahan, kesucian, keikhlasan, dan tanpa pamrih.

2. Bidadari berasal dari bahasa sansekerta yaitu Vidhya yang memiliki arti yaitu ilmu pengetahuan, dan Dharya yang artinya pemilik, pemakai, atau pembawa. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam makna yang kedua ini bidadari adalah seseorang yang memiliki, memakai, atau membawa ilmu pengetahuan.

· Selendang

Beberapa pertimbangan mengenai makna selendang yang mengandung nilai estetis yaitu bahwasanya selendang adalah sebuah benda yang pada umumnya digunakan oleh seorang wanita untuk menutupi tubuhnya yang dipasangkan dengan jarik atau tapih. Dengan digunakannya selendang yang dipasangkan dengan tapih atau jarik yang semacam ini, secara tidak langsung juga dapat menimbulkan keindahan, keanggunan, kesucian, dan kehormatan. Inilah beberapa pertimbangan estetis dari selendang tersebut.

4. Taste atau Selera

Penyelidikan tentang selera menurut pandangan Gadamer dalam hal ini tidak bersangkut- paut dengan kecenderungan pribadi, atau bahkan dengan kesukaan pribadi. Sebaliknya, pandangan Gadamer justru mengatasi kesukaan pribadi. Menurut gadamer orang tentu saja dapat menyukai apa yang orang lain tidak suka. Oleh karena itu tentang selera tidak perlu diperdebatkan, sebab tidak ada criteria untuk menentukan selera.

Menurut Gadamer selera sama dengan rasa, yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. Jika selera menunjukkan reaksi negatif atas sesuatu, kita tidak tahu sebabnya. Tetapi selera tahu pasti tentang hal itu. Semakin selera dinyatakan pasti, maka akan semakin dirasakan hambar. Berdasarkan fakta, selera bertentangan dengan hal yang tidak menimbulkan selera.

Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan, tetapi kemampuan ini tidak dapat didemonstrasikan. Selera tidak terbatas pada apa yang indah secara alami dan di dalam seni, tetapi sebaliknya justru meliputi seluruh moralitas dan perilaku atau tabiat.

Konsep pertimbangan seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya memiliki hubungan yang erat dengan selera atau taste, selain itu keputusan moral juga menuntut selera. Kita tidak pernah memiliki selera yang berlaku umum. Kita hanya memiliki pertimbangan atas kasus khusus individual. Jadi, pertimbangan selalu mempunyai titik awal berlakunya. Kiranya sulit bagi kita untuk memisahkan antara selera dan pertimbangan.

Dalam penerapannya dengan cerita rakyat Jaka Tarub ini, terdapat banyak selera yang berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Selera yang ada antara lain selera yang baik(positif) dengan selera yang kurang baik (negatif). Selera ini muncul akibat adanya beberapa pertimbangan. Hal ini sama halnya dengan apa yang telah dipaprkan di atas yaitu konsep selera atau taste memiliki hubungan yang erat denagn konsep pertimbangan.

Dalam cerita ini, dikisahkan bahwa istri Jaka Tarub atau Sunan Tarub adalah Dewi Nawangwulan. Di dalam kehidupan masyarakat ini ada beberapa penafsiran mengenai konsep ”bidadari”. Ada dua pandangan yang berbeda mengenai konsep bidadari ini, yaitu pandangan yang positif dan pandangan negatif.

· Pandangan Positif

Pandangan positif ini yang sesuai dengan selera para pendukung cerita rakyat Jaka Tarub. Yang dimaksud dengan pendukung cerita ini adalah mereka yang memiliki konsep pemikiran yang positif mengenai konsep “bidadari” tersebut. Munculnya selera ini timbul karena adanya beberapa pertimbangan mengenai citra positif “bidadari” tersebut. Mengingat “bidadari” adalah makhluk ciptaan Tuhan, dalam hal ini yang dimaksud adalah Dewi Nawangwulan adalah wanita yang diciptakan oleh Tuhan dengan dibekali karomah (keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan pada makhluk yang dipercaya). Selain itu ada juga beberapa pertimbangan mengenai “bidadari” seperti yang telah dijelaskan pada bagian pertimbangan seperti di atas. Pertimbangan mengenai citra positif “bidadari” ini berhubungan dengan nilai estetis yang menimbulkan citra positif pada “bidadari”.

Peran Dewi Nawangwulan tersebut sangat besar bagi Jaka Tarub sampai pada akhirnya dalam penyebaran syariat agama Islam pada masa itu. Masyarakat di sekitar Desa Tarub tersebut juga menganggap bahwa Dewi Nawangwulan adalah bidadari, bahkan narasumber ini sendiri menganggap bahwa kedudukan Dewi Nawangwulan ini adalah sejajar dengan malaikat. Padahal ketika narasumber ditanya mengenai hal-hal yang lebih lanjut apa dan bagaimana itu Dewi Nawangwulan, narasumber tidak bisa, bahkan tidak mau menjawab dengan alasan “ora ilok” dengan bahasa yang sedikit berbelit-belit. Penggunaan bahasa yang seperti itu mengandung makna yang tersembunyi, baik sengaja disembunyikan atau tidak. Namun, hal ini tidak mengubah selera warga masyarakat di sekitar Desa Tarub yang memiliki selera positif pada citra Dewi Nawangwulan sebagai “bidadari”.

· Pandangan Negatif

Pada bagian ini sangat bertentangan dengan selera positif para pendukung cerita Jaka Tarub ini. Bagi mereka yang memiliki selera negatif mengenai konsep “bidadari” ini memiliki beberapa pertimbangan. Pertimbangan ini muncul karena mengaitkan peran wanita pada zaman itu dengan wanita-wanita keturunan sebelumnya pada zaman Kerajaan Singosari, Majapahit, dan lain sebagainya. Mereka menganggap wanita pada zaman itu “nyleneh”. Bahkan ada yang mengaitkan konsep “bidadari” sebagai makna konotasi dari wanita yang gemar bersolek agar cantik atau “ayu” sehingga laku atau “payu”. Anggapan ini sama halnya dengan menjatuhkan citra positif “bidadari” pada masa itu dengan menyamakan dengan konsep “wong wedok geleman”. Atas dasar pertimbangan yang seperti inilah, yang menyebabkan timbulnya selera negatif pada konsep “bidadari”.

Seperti hal-hal yang telah dipaparkan di atas, tentunya kita tidak adil apabila memaksakan selera kita kepada khalayak umum. Kita hanya bisa menerima selera orang lain yang berbeda dengan kita, dan menyerahkan kepada orang lain tersebut mengenai selera apa yang mereka suka menurut penafsiran mereka pada pertimbangan-pertimbangan sebelumnya yang menimbulkan selera mereka.


0 komentar:

Poskan Komentar