Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Jumat, 18 Juni 2010

Penerapan Teori Hermeneutika Pada Cerita Jaka Tarub

Seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan awal mengenai teori Hermeneutika oleh Gadamer mengenai pemahaman atau interpretasi mengenai karya seni atau karya sastra baik secara lisan maupun tulis pada dasarnya berkaitan dengan hubungan antarmakna dalam sebuah teks, serta pemahaman tentang realitas yang kita perbincangkan. Dengan inilah yang dimaksud dengan dinamika perpaduan berbagai macam factor dalam sebuah bahasa yang dapat kita gunakan untuk mengkaji makna dalam setiap symbol yang ada dalam media bahasa tersebut. Faktor- factor yang dimaksud itu antara lain :

1. Bildung

Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni, sejarah weltanschauung (pandangan dunia), pengalaman, ketajaman pikiran, dunia eksternal, kebatinan, ekspresi atau ungkapan, style atau gaya dan simbol, yang kesemuanya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. Kata bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari pada sekedar kultur atau kebudayaan, bahkan mempunyai arti dalam konotasi yang lebih tinggi. Seperti alam, bildung tidak mempunyai tujuan akhir selain dirinya sendiri, sejauh kata bildungziel, mempunyai tujuan untuk meluaskan pengertian kata bildung tersebut. Bildung adalah sebuah gagasan historis asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan, selama seni dan sejarah masuk dalam bildung (kebudayaan), orang akan melihat dengan mudah hubungan antara bildung dan hermeneutik. Tanpa bildung orang tidak akan dapat memahami ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan.

Tentunya dalam cerita Jaka Tarub ini yang dimaksud bildung adalah segala hal-hal yang juga ada hubungannya dengan kebudayaan Jawa yang lekat sekali pada zaman pada saat adanya cerita itu terjadi. Dalam cerita rakyat Jaka Tarub ini, ada beberapa makna dalam simbol yang erat kaitannya dengan bildung. Adapun simbol-simbol yang akan ditafsirkan dalam cerita Jaka Tarub ini antara lain:

a. Selendang

Dalam cerita Jaka Tarub, diceritakan Jaka Tarub mengambil selendang Dewi Nawangwulan yang akhirnya disimpan dibawah tumpukan ketan hitam. Disini makna dari simbol selendang pada masyarakat Jawa yang dipakai oleh para wanita, khususnya Dewi Nawangwulan ditafsirkan adalah sebuah kehormatan dan kesucian. Pada zaman dahulu, biasanya pemakaian selendang selalu berpasangan dengan kain jarik atau tapih. Sedangkan jarik atau tapih yang digunakan bersamaan dengan selendang itu sendiri selalu digunakan untuk menutup tubuh. Jadi, pemakaian kata selendang dapat disimpulkan sebuah kehormatan, keindahan, keanggunan atau kesucian.

b. Tulup

Dalam cerita rakyat jaka tarub ini, diceritakan bahwa Jaka Tarub memperoleh senjata Tulup Tunjung Lanang ini dari orang tua yang ditemuinya di tengah hutan. Tulup kemudian selalu dibawa dan digunakannya untuk berburu, hingga bertemu dengan Dewi Nawangwulan. Makna symbol tulup di sini adalah melambangkan tentang kekuatan, kekokohan tekad seorang pria dalam mencari atau memperoleh apa yang diinginkan.

c. Anjang-anjang

Makna simbol anjang-anjang di sini adalah sebuah, kepercayaan, keamanan dan kenyamanan. Dalam cerita Jaka Tarub ini diceritakan bahwa saat Dewi Nawangwulan akan pergi meningggalkan Jaka Tarub dan Dewi Nawangsih, beliau berpesan agar Jaka Tarub membuatkan anjang-anjang untuk meletakkan Dewi Nawangwulan setiap malam saat akan disusui oleh Dewi Nawangwulan. Anjang-anjang umumnya terbuat dari kayu, bambo, atau yang lainnya. Anjang-anjang memiliki dua atau lebih tiang penyangga yang kokoh dan kuat. Menurut interpretasi penafsir di sini digambarkan bahwa Dewi Nawangwulan percaya kepada Jaka Tarub untuk mengasuh putri mereka menjadi anak yang baik. Jaka Tarub dinilai mampu memberikan keamanan dalam menjaga Dewi Nawangsih, sehingga Dewi Nawangsih nyaman.

d. Taruban

Seperti yang telah diceritakan dalam cerita Jaka Tarub, ketika Jaka Tarub masih bayi dimasukkan dalam bokor yang diletakkan di dekat makam Aryo Penanggungan. Dalam hal ini makna dari symbol Taruban adalah kesederhanaan. Dikatakan memiliki makna kesederhanaan karena dalam kepercayaan masyarakat Desa Tarub, khususnya dalam pepalih yang dipercaya apabila ada salah seorang warga saja yang mendirikan taruban dalam hajatan, maka biasanya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk itu mereka lebih memilih untuk tidak mendirikan taruban. Selain itu, dimaknai dengan sebuah kesederhanaan, karena adanya pertimbangan pula bahwa sebagian besar warga Desa Tarub yang hidup sederhana.

e. Bokor

Dalam cerita Jaka Tarub ini ini diceritakan bahwa, semasa bayi Jaka Tarub diletakkan oleh ayahnya di dalam bokor kencana kemudian di tinggal di dekat makam Aryo Penanggungan. Bokor terbuat dari tembaga atau logam yang kuat. Maka dari itu bokor tidak mudah bocor. Dengan demikian bokor mempunyai makna simbolik yaitu kekuatan.

2. Sensus Communis

Gadamer menggunakan ungkapan ini bukan sebagai pendapat umum atau pendapat kebanyakan orang pada umumnya. Menurut pengertiannya yang mendasar, istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. Hidup di dalam suatu komunitas atau kelompok masyarakat memperkembangkan suatu pandangan tentang kebaikan yang benar dan umum. Sejarawan memerlukan sensus komunis semacam ini dengan maksud untuk memahami arus yang mendasari pola sikap manusia. Sejarah pada dasarnya tidak berbicara tentang seorang manusia yang terpencil, tetapi berbicara tentang kelompok manusia atau komunitas. Demikian juga dengan kesusastraan. Sebuah karya sastra, yang temanya bersifat universal atau yang menggambarkan keadaan manusia, layak untuk dihargai. Gadamer sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus komunis adalah pandangan tentang kebaikan umum, cinta komunitas, masyarakat, atau kemanusiaan. Sensus communis adalah kebijaksanaan dalam pergaulan sosial. Melalui sensus communis orang memperkembangkan pandangan tentang kebaikan umum atau cinta kemanusiaan.

Kaitannya dengan cerita Jaka Tarub, tentunya dalam komunitas sosial, pandangan antara orang yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Hal ini menimbulkan multitafsir. Dengan adanya multitafsir tersebut tentunya akan sulit mengambil inti cerita, jadi diperlukan sebuah kesimpulan atau kesepakatan sebagai titik temu untuk menjelaskan cerita tersebut. Penerapannya dalam cerita ini yaitu terdapat konsep pemikiran masyarakat tentang Jaka Tarub yang terkenal dengan perbuatannya “mencuri” selendang, padahal apabila dibandingkan dengan pendapat narasumber cerita rakyat ini dan sebagian besar masyarakat Desa Tarub, tindakan Jaka Tarub tersebut adalah “meminjam”. Mereka tidak mau mengatakan Jaka Tarub “mencuri”. Ada sebuah anggapan yang sangat kontras mengenai tindakan Sunan Tarub atau Ki Ageng Tarub yang tidak mungkin mencuri. Mereka lebih senang menyebut Ki Ageng Tarub ”meminjam”.

Dari dua hal yang telah dipaparkan diatas telah ditemukan konsep pemikiran yang berbeda mengenai tindakan Ki Ageng Tarub tersebut. Namun, dalam konsep pemikiran masyarakat awam di luar Desa Tarub dari dulu sampai pada saat ini, tindakan Ki Ageng Tarub tersebut yang mereka tahu adalah “mencuri”. Jadi konsep pemikiran mencuri dijadikan sebagai konvensi atau kesepakatan yang dipakai oleh masyarakat awam sebagai titik temunya.

3. Pertimbangan

Konsep pertimbangan mirip dengan sensus communis dan selera. Pertimbangan sifatnya adalah universal, namun bukan berarti berlaku umum. Seperti halnya sensus communis yang dianggap sebagai harta universal, kemanusiaan namun juga tidak juga digunakan secara umum. Pertimbangan juga bersifat universal, tetapi hanya sedikit orang saja yang kiranya memilliki hal itu serta mempergunakannya sebagaimana mestinya. Pertimbangan dan sensus communis keduanya merupakan interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. Melalui pertimbangan orang dapat memilah-milah macam-macam peristiwa.

Gadamer sepakat dengan Immanuel Kant tentang pembinaan praktis yang dihubungkan dengan pengertian estetis atau nilai estetis. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal, dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan, konsep, prinsip, dan hukum-hukum yang dapat diolah manusia.

· Bidadari

Seperti yang telah dipaparkan di atas pertimbangan menurut Gadamer ini berhubungan dengan nilai estetis, atau nilai yang mengandung keindahan. Berkenaan dengan hal pertimbangan mengenai bidadari ini memiliki dua makna, yaitu :

1. Bidadari adalah sosok yang digambarkan memiliki keindahan, kesucian, keikhlasan, dan tanpa pamrih.

2. Bidadari berasal dari bahasa sansekerta yaitu Vidhya yang memiliki arti yaitu ilmu pengetahuan, dan Dharya yang artinya pemilik, pemakai, atau pembawa. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam makna yang kedua ini bidadari adalah seseorang yang memiliki, memakai, atau membawa ilmu pengetahuan.

· Selendang

Beberapa pertimbangan mengenai makna selendang yang mengandung nilai estetis yaitu bahwasanya selendang adalah sebuah benda yang pada umumnya digunakan oleh seorang wanita untuk menutupi tubuhnya yang dipasangkan dengan jarik atau tapih. Dengan digunakannya selendang yang dipasangkan dengan tapih atau jarik yang semacam ini, secara tidak langsung juga dapat menimbulkan keindahan, keanggunan, kesucian, dan kehormatan. Inilah beberapa pertimbangan estetis dari selendang tersebut.

4. Taste atau Selera

Penyelidikan tentang selera menurut pandangan Gadamer dalam hal ini tidak bersangkut- paut dengan kecenderungan pribadi, atau bahkan dengan kesukaan pribadi. Sebaliknya, pandangan Gadamer justru mengatasi kesukaan pribadi. Menurut gadamer orang tentu saja dapat menyukai apa yang orang lain tidak suka. Oleh karena itu tentang selera tidak perlu diperdebatkan, sebab tidak ada criteria untuk menentukan selera.

Menurut Gadamer selera sama dengan rasa, yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. Jika selera menunjukkan reaksi negatif atas sesuatu, kita tidak tahu sebabnya. Tetapi selera tahu pasti tentang hal itu. Semakin selera dinyatakan pasti, maka akan semakin dirasakan hambar. Berdasarkan fakta, selera bertentangan dengan hal yang tidak menimbulkan selera.

Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan, tetapi kemampuan ini tidak dapat didemonstrasikan. Selera tidak terbatas pada apa yang indah secara alami dan di dalam seni, tetapi sebaliknya justru meliputi seluruh moralitas dan perilaku atau tabiat.

Konsep pertimbangan seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya memiliki hubungan yang erat dengan selera atau taste, selain itu keputusan moral juga menuntut selera. Kita tidak pernah memiliki selera yang berlaku umum. Kita hanya memiliki pertimbangan atas kasus khusus individual. Jadi, pertimbangan selalu mempunyai titik awal berlakunya. Kiranya sulit bagi kita untuk memisahkan antara selera dan pertimbangan.

Dalam penerapannya dengan cerita rakyat Jaka Tarub ini, terdapat banyak selera yang berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Selera yang ada antara lain selera yang baik(positif) dengan selera yang kurang baik (negatif). Selera ini muncul akibat adanya beberapa pertimbangan. Hal ini sama halnya dengan apa yang telah dipaprkan di atas yaitu konsep selera atau taste memiliki hubungan yang erat denagn konsep pertimbangan.

Dalam cerita ini, dikisahkan bahwa istri Jaka Tarub atau Sunan Tarub adalah Dewi Nawangwulan. Di dalam kehidupan masyarakat ini ada beberapa penafsiran mengenai konsep ”bidadari”. Ada dua pandangan yang berbeda mengenai konsep bidadari ini, yaitu pandangan yang positif dan pandangan negatif.

· Pandangan Positif

Pandangan positif ini yang sesuai dengan selera para pendukung cerita rakyat Jaka Tarub. Yang dimaksud dengan pendukung cerita ini adalah mereka yang memiliki konsep pemikiran yang positif mengenai konsep “bidadari” tersebut. Munculnya selera ini timbul karena adanya beberapa pertimbangan mengenai citra positif “bidadari” tersebut. Mengingat “bidadari” adalah makhluk ciptaan Tuhan, dalam hal ini yang dimaksud adalah Dewi Nawangwulan adalah wanita yang diciptakan oleh Tuhan dengan dibekali karomah (keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan pada makhluk yang dipercaya). Selain itu ada juga beberapa pertimbangan mengenai “bidadari” seperti yang telah dijelaskan pada bagian pertimbangan seperti di atas. Pertimbangan mengenai citra positif “bidadari” ini berhubungan dengan nilai estetis yang menimbulkan citra positif pada “bidadari”.

Peran Dewi Nawangwulan tersebut sangat besar bagi Jaka Tarub sampai pada akhirnya dalam penyebaran syariat agama Islam pada masa itu. Masyarakat di sekitar Desa Tarub tersebut juga menganggap bahwa Dewi Nawangwulan adalah bidadari, bahkan narasumber ini sendiri menganggap bahwa kedudukan Dewi Nawangwulan ini adalah sejajar dengan malaikat. Padahal ketika narasumber ditanya mengenai hal-hal yang lebih lanjut apa dan bagaimana itu Dewi Nawangwulan, narasumber tidak bisa, bahkan tidak mau menjawab dengan alasan “ora ilok” dengan bahasa yang sedikit berbelit-belit. Penggunaan bahasa yang seperti itu mengandung makna yang tersembunyi, baik sengaja disembunyikan atau tidak. Namun, hal ini tidak mengubah selera warga masyarakat di sekitar Desa Tarub yang memiliki selera positif pada citra Dewi Nawangwulan sebagai “bidadari”.

· Pandangan Negatif

Pada bagian ini sangat bertentangan dengan selera positif para pendukung cerita Jaka Tarub ini. Bagi mereka yang memiliki selera negatif mengenai konsep “bidadari” ini memiliki beberapa pertimbangan. Pertimbangan ini muncul karena mengaitkan peran wanita pada zaman itu dengan wanita-wanita keturunan sebelumnya pada zaman Kerajaan Singosari, Majapahit, dan lain sebagainya. Mereka menganggap wanita pada zaman itu “nyleneh”. Bahkan ada yang mengaitkan konsep “bidadari” sebagai makna konotasi dari wanita yang gemar bersolek agar cantik atau “ayu” sehingga laku atau “payu”. Anggapan ini sama halnya dengan menjatuhkan citra positif “bidadari” pada masa itu dengan menyamakan dengan konsep “wong wedok geleman”. Atas dasar pertimbangan yang seperti inilah, yang menyebabkan timbulnya selera negatif pada konsep “bidadari”.

Seperti hal-hal yang telah dipaparkan di atas, tentunya kita tidak adil apabila memaksakan selera kita kepada khalayak umum. Kita hanya bisa menerima selera orang lain yang berbeda dengan kita, dan menyerahkan kepada orang lain tersebut mengenai selera apa yang mereka suka menurut penafsiran mereka pada pertimbangan-pertimbangan sebelumnya yang menimbulkan selera mereka.


Senin, 14 Juni 2010

suluk Wujil

suluk wujil merupakan ajaran sunan wahdat kepada wujil yang merupakan abdi dalem kerajaan Majapait. Wuji dari segi nama bersala dari kata bujel yang berarti pendek kemudian mengalami perubahan makna menjadi wujil. Untuk lebih jelasnya baca suluk gatholoco.

Senin, 07 Juni 2010

Asal jeneng Semarang

Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah yang berada di wilayah pantura. Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Atlas karena hawanya yang panas itu, mempunyai berbagai sejarah dan berbagai peninggalan mulai dari zaman kerajaan sampai zaman kolonialisme.
Semarang yang berasal dari kata samaran yang merupakan nama lain dari endiri Semarang yang menyamar sehingga disebut samaran. Seiring berjaannya waktu, kata samaran berubah menjadi semaran dan kini berubah lagi menjadi Semarang.

Sabtu, 05 Juni 2010

Grebeg Besar Demak

Pada tanggal 27 Nopember ini kota Demak mengadakan tradisi Grebeg Besar yang menjadi acara tradisi yang dikemas dalam bentuk Wisata Ziarah.

Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa dengan rajanya Raden Fatah. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kokoh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak.

Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dimulai pada abad XV dan dipelopori oleh Wali Sanga, bahkan salah satu wali tersebut bermukim sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kadilangu Demak, yaitu Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Kadilangu semula adalah daerah perdikan sebagai anugrah dari Sultan Fatah kepada Sunan Kalijaga. Karena Sunan Kalijaga telah berjasa dalam menyebarkan agama Islam dan memajukan kerajaan Demak.

Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada. Setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Sampai saati ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan.

¥ Prosesi Grebek Besar Demak

Ø Ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak & Sunan Kalijaga

Grebeg Besar Demak diawali dengan pelaksanaan ziarah oleh Bupati, Muspida dan segenap pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, masing-masing beserta istri/suami, ke makam Sultan-Sultan Demak dilingkungan Masjid agung Demak dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Kegiatan ziarah tersebut dilaksanakan pada jam 16.00 WIB; kurang lebih 10 (sepuluh) hari menjelang tanggal 10 Dzulhijah.

Ø Pasar Malam Rakyat di Tembiring Jogo Indah

Untuk meramaikan perayaan Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah digelar pasar malam rakyat yang dimulai kurang lebih 10 (sepuluh) hari sebelum hari raya Idul Adha dan dibuka oleh Bupati Demak setelah ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga.

Pasar malam tersebut dipenuhi dengan berbagai macam dagangan, mulai dari barang barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan mainan anak, hasil kerajinan, makanan/minuman, permainan anak-anak dan juga panggung pertunjukkan /hiburan.

Ø Selamatan Tumpeng Sanga

Selamatan Tumpeng Sanga dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya Idul Adha bertempat di Masjid Agung Demak. Sebelumnya kesembilan tumpeng terebut dibawa dari Pendopo Kabupaten Demak dengan diiringi ulama, para santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung Demak. Tumpeng yang berjumlah sembilan tersebut melambangkan Wali Sanga. Selamatan ini dilaksanakan dengan harapan agar seluruh masyarakat Demak diberikan berkah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat dari Allah SWT. Acara selamatan tersebut diawali dengan pengajian umum diteruskan dengan pembacaan doa. Sesudah itu kepada para pengunjung dibagikan nasi bungkus. Pembagian nasi bungkus tersebut dimaksudkan agar para pengunjung tidak berebut tumpeng sanga. Sejak beberapa tahun terakhir tumpeng sanga tidak diberikan lagi kepada para pengunjung dan sebagai gantinya dibagikan nasi bungkus tersebut.

Pada saat yang sama di Kadilangu juga dilaksanakan kegiatan serupa, yaitu Selamatan Ancakan, selamatan terebut bertujuan untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar sesepuh dan seluruh anggota Panitia penjamasan dapat melaksanakan tugas dengan lancar tanpa halangan suatu apapun juga serta untuk menghormati dan menjamu para tamu yang bersilaturahmi dengan sesepuh.

Ø Sholat Ied

Pada tanggal 10 Dzulhijah Masjid Agung dipadati oleh umat Islam yang akan melaksanakan Sholat Ied, pada saat-saat seperti ini Masjid Agung Demak sudah tidak dapat lagi menampung para jamaah, karena penuh sesak dan melebar ke jalan raya, bahkan sebagian melaksanakan sholat di alun-alun. Pada kesempatan tersebut Bupati Demak beserta Muspida melaksanakan sholat di Masjid Agung Demak dan dilajutkan dengan penyerahan hewan qurban dari Bupati Demak kepada panitia.

Ø Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga

Setelah selesai Sholat Ied di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Kedua pusaka tersebut adalah Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Crubuk. Konon Kutang Ontokusumo adalah berujud ageman yang dikiaskan pegangan santri yang dipakai sunan kalijaga setiap kali berdakwah.
Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat sunan kalijaga sebagai berikut””agemanku, besuk yen aku wis dikeparengake sowan engkang Maha Kuwaos, salehna neng duwur peturonku. Kajaba kuwi sawise uku kukut, agemanku jamas ana.” Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada allah SWT.

Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendopo Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. Melambangkan “Manunggale kawula lan gusti”, yang dibawakan oleh 9 (sembilan) remaja putri. Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan” dan diiringi kesenian tradisional Demak. Bersamaan dengan itu Bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda.
Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dilaksanakan oleh petugas dibawah pimpinan Sesepuh Kadilangu di dalam cungkup gedong makam Sunan Kalijaga Kalijaga. Sesepuh dan ahli waris percaya, bahwa ajaran agama Islam dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebar luaskan oleh Sunan Kalijaga adalah benar. Oleh karena itu penjamasan dilakukan dengan mata tertutup. Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati. Artinya ahli waris sudah bertekad bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati.

Dengan selesainya penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga tersebut, maka berakhir pulalah rangkaian acara Grebeg Besar Demak.

Upacara Nyadran

Hampir di semua daerah di eks-karesidenan Semarang mempunyai tradisi nyadran. Upacara nyadran sendiri merupakan serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat khususnya masyarakat Jawa dengan tujuan untuk meminta keselamatan. Di daerah Kendal misalnya, tradisi nyadran dilakukan setiap satu tahun sekali di hari jumat kliwon sasi sura. Upacara ini wajib dilakukan dikarenakan masyarakat mempercayai bahwa pada sasi sura atau bulan sura merupakan bulan yang dikeramatkan, sehingga dibutuhkan suatu kewaspadaan dalam segala aktivitas. Upacara ini dilaksanakan di sebuah makam atau sejenis tempat yang dikeramatkan dengan membawa nasi beserta lauk seadanya. Sebelum upacara dimulai seseorang memimpin doa untuk meminta keselamatan, orang tersebut merupakan pemuka kampung (kepala Desa). Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan selamatan berupa makanan yang sudah disiapkan. Sebagai hiburan disajikan berupa tarian Gendot. Tarian Gendot merupakan salah satu tarian khas di Kabupaten Kendal di mana ada dua atau lebih penari wanita yang didiringi menggunakan gamelan sederhana. Tarian ini dilakukan di bawah pohon yang dianggap wingit (keramat) oleh masyarakat setempat. Hal ini bertujuan agar makhluk halus yang tinggal di pohon tersebut tidak mengganggu ketenangan masyarakat setempat.

Salah satu pohon keramat di desa Manggungmangu, kec. Plantungan,

kab. Kendal

Di daerah lain juga mempunyai tujuan yang hampir sama yaitu untuk mengirim doa kepada leluhur atau saudara yang telah meninggal. Acara nyadran dilaksanakan di kuburan, dengan membawa nasi beserta lauknya, jajan pasar, dan beberapa buah-buahan, bahkan ada yang membawa tumpeng dan ingkung ayam. Sesampainya di kuburan mereka menggela doa bersama, dan setelah doa selesai mereka menyantap makanan itu bersama-sama.

Jumat, 04 Juni 2010

Upacara Ruwatan


Upacara ruwatan atau “Ngruwat” berasal dari kata “luwar” atau lepas, dilepaskan atau dibebaskan. Jadi meruwat berarti melepaskan, membebaskan atau menolak dan menghindarkan malapetaka yang diramalkan akan menimpa dirinya. Tentu saja tak seorangpun manusia mengharapkan sesuatu malapetaka menimpa dirinya. Untuk itu berbagai daya upaya dilakukan dan ditempuhnya agar hidupnya tenteram, bahagia serta terhindar dari segala mara bahaya dan kesulitan.

Bagi yang percaya kadang kala orang tidak segan-segan mengeluarkan biaya banyak untuk mencapai ketentraman dan kebahagiaan jiwanya. Bahkan ada yang berpedoman: “Uang dapat dicari, tetapi keselamatan lahir dan ketentraman batin lebih penting arinya.” Karena itulah banyak orang yang tidak mau meningalkan adat istiadat dan tradisi (meruwat) yang telah dipegang teguh dan dihayati sejak zaman nenek moyang kita.

Menurut Kepustakan “Pakem Pengruwatan Murwa Kala), bahwa orang yang harus diruwat itu disebut “Sukerta”. Ada 60 macam penyebab malapetaka dari sukerta yang dapat dihindari dengan jalan diruwat. Ke 60 jenis orang yang harus diruwat atau sukerta tersebut adalah:

¥ Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “dandang” (tempat menanak nasi).

¥ Memecahkan “pipisan” dan mematahkan “gandik” (alat untuk landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramuan-ramuan obat tradisional).

¥ “Uger-uger lawang”, yaitu dua orang anak, yang keduanya laki-laki dengan catatan tidak ada anak yang meninggal.

¥ Anak bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (“plasenta”).

¥ Anak kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putrid atau kembar “dampit”. Yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan)

¥ “Kembang sepasang”, atau sepasang bunga, taitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.

¥ “Kedhana-kedhini”, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

¥ “Ontang-anting”, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

¥ “Sendang kapit pancuran”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu laki-laki, sedang anak yang ke 2 adalah perempuan.

¥ “Pancuran kapit sendang”, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan bungsu perempuan, sedang anak yang ke 2 adalah laki-laki.

¥ “Saramba”, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.

¥ “Simpi”, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.

¥ “Mancalaputra” atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.

¥ “Mancalputri”, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.

¥ “Pipilan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang perempuan dan seorang laki-laki.

¥ “Padangan”, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan seorang perempuan.

¥ ”Julung pujud”, yaitu anak yang lahir pada saat matahari terbenam.

¥ “Julung sungsang”, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.

¥ “Julung wangi”, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.

¥ “Tiba ungker” bayi yang lahir, kemudian meninggal.

¥ “Jempina”, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.

¥ “Tiba sampir”, anak yang lahir berkalung usus.

¥ ”Margana”, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.

¥ “Wahana”, yaitu anak yang lahir dalam halaman atau pekarangan rumah.

¥ “Siwah/salewah”, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.

¥ “Bule”, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”.

¥ “Kresna”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.

¥ ”Walika”, yaitu anak yang lahir berujud bajang/kerdil.

¥ “Wungkuk”, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bongkok.

¥ “Dengkak”, yaitu anak yang lahir punggungnya menonjol seperti punggung onta.

¥ “Wujil”, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol/pendek.

¥ “Lawang menga”, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya ‘candikala’ yaitu ketika langit merah kekuning-kuningan.

¥ “Made”, yaitu anak yang lahir tanpa alas/tikar.

¥ Orang yang bertempat tinggal dalam rumah yang tidak ada “tutup keyong”nya.

¥ Orang yang tidur diatas kasur tanpa sprei (penutup kasur).

¥ Orang yang membuat pepajangan / dekorasi tanpa samir/ daun pisang.

¥ Orang yang memiliki lumbung / gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.

¥ Orang yang menempatkan barang disuatu tempat (“dandang misalnya”) tanpa ada tutupnya.

¥ Orang yang membuang kutu masih hidup.

¥ Orang berdiri ditengah-tengah piuntu.

¥ Orang yang duduk didepan(ambang) pintu.

¥ Orang selalu bertopang dagu.

¥ Orang yang gemar membakar kulit bawang.

¥ Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya panici dengan panic).

¥ Orang yang senang membakar rambut.

¥ Orang yang senang membakar tikar dari bamboo (“galar”).

¥ Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.

¥ Orang yang senang membakar tulang.

¥ Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.

¥ Orang yang suka membuang garam.

¥ Orang yang senang membuang sampah / kotoran di bawah (dikolong) tempat tidur.

¥ Orang yang membuang sampah lewat jendela.

¥ Orang tidur pada waktu matahari terbit.

¥ Orang tidur pada waktu matahari terbenam.

¥ Orang yang memenjat pohon pada waktu siang bolong (jam 12 siang).

¥ Orang yang tidur diwaktu siang hari (jam 12 siang)

¥ Orang yang senang manenek nasi, kemudian ditinggal pergi ke tetangga.

¥ Orang yang suka mengaku hak orang lain.

¥ Orang yang sering meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat menumbuk padi).

¥ Orang yang lengah, sehingga mereobohkan jemuran “wijen” biji-bijian

Demikian 60 jenis “sukerta”, yaitu jenis-jenis manusia yang dijanjikan oleh sang Hyang Betara Guru kepada Betara Kala untuk menjadi santapan atau makanannya. Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam criteria tersebut diatas menghindarkan diri dari malpetaka (menjadi makanan Batara Kala) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan / ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon ruiwatan yang lain misalnya: Baratayuda, Sudamal, Kunjarakarna, dan lain sebagainya.

Lepas dari percaya atau tidak percaya, tetapi tampak jelas bahwa salah satu fungsi pertunjukan wayang adalah suatu kegiatan yang ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat religius. Karena yang memegang pernan dalam lakon-lakon Murwakala atau ruwatan ini adalah Kandhabuwana (Wisnu) dan Siwa, maka tentu dengan sendirinya wayangan dengan lakon Murwakala itu semula tentu ada hubungan dan kaitanya dengan agama aliran Siwa dan atau Wisnu, Budha dan sebagainya.

Adapun sajen-sajen yang biasanya disertakan dalam upacara ruwatan yaitu menurut Pakem Murwakala ada 36 jenis perlengkapan sajen antara lain :

¥ Tuwuhan, yaitu pisang, cengkir atau kelapa muda dan pohon tebu masing-masing dua pasang yang diletakkan dikanan-kiri kelir atau layar.

¥ Padi sagedheng = 4 ikat padi sebelah menyebelah.

¥ 1 buah kelapa yang sedang tumbuh / bertunas sebelah menyebelah.

¥ 1 batang tebu.sebelah menyebelah.

¥ 2 ekor ayam (betina dan jantan) yang diikat pada “tuwuhan” dikanan-kiri kelir (lihat no.1).

¥ 4 batang kayu “Walikulun” yang masing-masing panjangnya kurang lebih 1 hasta.

¥ ungker siji = 1penggulung benang.

¥ 4 buah ketupat pangluwar ( = pembebas atau penolak)

¥ 1 lembar tikar (yang baru)

¥ 1 bantal (yang baru)

¥ Sisir rambut

¥ Suri (sisir khusus untuk mencari kutu rambut)

¥ Cermin

¥ Payung

¥ Minyak wangi sundul langit

¥ 7 macam kain batik (“jarit”) yaitu: Poleng bang sadodot; tuwuh watu; dringin; songer; liwatan; gadhung melathi; pandan binetot.

¥ Daun lontar satu gengganm

¥ 2 pisau dari baja.

¥ Dua butir telur ayam

¥ “Gedhang ayu” (pisang yang sudah masak, yang biasanya pisang pulut atau pisang raja); suruh ayu saadune (sirih dengan kelengkapanya); krambil grondil (kelapa tan sabut (“sepet”); gula setangkep (gula merah /jawa satu pasang); beras sapitrah (beras sebanyak untuk fitrah); ayam panggang; “tindhihe duwit salawe uwang” (“tindih” –uang yang diletakkan diatas “sajen”/ sajian sebanyak 25 wang)

¥ Air tujuh macam: air bunga setaman yang ditempatkan dalam jambangan baru dan dimasuki uang sebanyak 2 wang.

¥ Seikat benang lawe

¥ Minyak kepala untuk blencong

¥ Nasi wuduk (gurih), dan daging ayam di “lembarang” (dimasak dengan santan dan bumbu)

¥ Satu guci badheg ( = arak kiang aren atau minuman keras)

¥ Satu guci tetes (kiloang tebu)

¥ Tujuh macam nasi tumpeng, yaitu: magana, rajeg dom, pucuk ndok, pucuk lombok abang/cabe merah, tutul, sembur, belang.

¥ Tujuh macam jadah. Misalnya jenang dodol, wajik,dan lain sebagainya.

¥ Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam)

¥ Ketupat lepet

¥ Legondoh

¥ Pula gimbal, pula gringsing

¥ Jenang abang, jenang bawok, jenang lemu (bermacam-macam bubur)

¥ Rujak legi, rujak crobo

¥ Gecko mentah, gecko bakal, gecko lele urip (sesajian/ “sesajen” berupa cacahan daging / ikan mentah.)

¥ Dandang sasaput-prantine wong olah-olah (dandang atau alat untuk menanak nasi beserta alat-alat memasak)

¥ Kendhi isi banyu kebak (kendi yang diisi air sampai penuh)

¥ Diyan anyar kang murub (pelita baru yang dinyalakan)

Sama seperti upacara ruwatan yang ada di jawa lainnya, di Kendal ada upacara ruwatan untuk kedana kedini, anak tunggal, kembang sepasang. Ruwatan ini bertujuan agar anak yang lahir tersebut tidak dimakan oleh bethara kala sehingga diruwat(dislameti). Ruwatan di kabupaten Kendal dapat melalui media wayang, dari media tersebut diharapkan anak tersebut dapat selamat dari ancaman bethara kala. Tata upacaranya adalah sebagai berikut:

¥ Orang yang akan diruwat didandani layaknya seorang mayat

¥ Orang tersebut tidur ditengah pertunjukkan wayang

¥ Di tepi pertunjukkan wayang di beri sesaji berupa dupa atau menyan dan kembang tujuh rupa (bertujuan agar upacara tersebut rumesep/tenang)

¥ Setelah tangggapan wayang selesai orang tersebut didoakan oleh masyarakat yang menonton

¥ Setelah acara berdoa bersama selesai orang yang diruwat tersebut dapat menikmati hidangan bersama masyarakat sekitar (syukuran).

Ruwatan adalah tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/ kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya.

Kalau kita lihat prasyarat ruwatan maka hampir semua kita pasti harus diruwat, ini menunjukan bahwa kita harus selalu "eling" juga untuk bersedekah untuk selamat, ini sebetulnya bisa dilakukan tanpa harus mengikuti upcara ruwatan itu sendiri karena ketenangan itu ada didalam hati masing masing.

Ruwatan selalu dikaitkan dengan Batara Kala, sebetulnya intinya adalah "Kala" yang artinya waktu, setiap orang pasti takut dengan waktu. Contoh yang paling sederhana seperti seorang gadis yang cantik, pasti setelah berlalu misal 40 tahun maka kecantikannya akan hilang, bisa diibaratkan kecantikannya dimakan "Kala", setiap barang juga akan usang dimakan "kala" dan hanya yang pasrah serta sadar akan hukum alam yang akan malaluinya dengan tenang. Ketenangan batin juga bisa dikaitkan dengan banyaknya perbuatan baik yang dilakukannya karena setiap manusia pasti pernah merasa bersalah dan amal perbuatan baiklah yang akan menyelamatkannya.

Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita "wayang" dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut.

Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi ,agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/ purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).

Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sbb :

¥ Alat musik jawa (Gamelan)

¥ Wayang kulit satu kotak (komplit)

¥ Kelir atau layar kain

¥ Blencong atau lampu dari minyak

Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:
Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.

Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

Bermacam-macam nasi antara lain :

¥ Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb.

¥ Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.

¥ Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

¥ Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

¥ Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

¥ Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.

¥ Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

¥ Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

¥ Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.

¥ Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.

¥ Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.

Didaerah Kendal upacara ini selain berfungsi seperti tersebut diatas dapat difungsikan sebagai upacara (slameti) anak yang lahir kedana kedini, anak tunggal, dan kembang sepasang.