Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Tampilkan postingan dengan label lagu dolanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagu dolanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2011

Jamuran, permainan ini dilakukan oleh sekelompok orang minimal 4 orang. Pemainnya berdiri melingkar dan bergandengan tangan. Ada salah satu pemain yang berdiri di tengah-tengah. Biasanya orang yang jadi (masang). Para pemain berputar sambil menyanyikan lagu jamuran. Kemudian yang berada ditengah / yang jadi meminta. Misalnya meminta jamur kethek menek. Semua pemain harus memanjat. Berarti dia yang jadi (masang)

Bekelan, permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang, yang satu sebagai lawan mainnya. Permainan ini dilakukan secara bergantian. Apabila satu pemain kalah, pemain yang satu yang memainkan begitu seterusnya. Alatnya berupa bola bekel dan empat buah batu kerikil. Cara bermainnya, bola bekel dilempar ke atas dengan pelan. Kemudian mengambil batu yang berada di bawah. Lalu kembali menangkap bola yang melambung tadi, sebelum bola jatuh ke tanah. Pertama, ambil batunya satu persatu, lalu dua per dua, lalu 3, lalu 4, begitu seterusnya.

Dakon, permainan ini tidak hanya sering dilakukan oleh masyarakat. Namun permainan ini juga dilakukan oleh puteri raja dalam keraton Dalam keraton biasanya menggunakan kecik (biji sawo). Selain biji sawo juga bisa menggunakan kerikil. Setiap lingkaran diberi kerikil 5 buah. Kecuali lingkaran yang berada disamping. Lingkaran itu dibiarkan kosong karena untuk menempatkan hasilnya. Permainan ini dimainkan oleh dua orang secara bergantian.

Bedelikan, permainan ini biasanya dilakukan oleh 5-7 orang atau lebih. Biasanya dilakukan pada siang hari atau juga sore hari. Pemain yang jaga biasanya pemain yang kalah pinsut. Pemain yang jaga menutup matanya lalu menghitung dari 1 sampai 10. pemain yang lain bersembunyi ditempat yang kira-kira dianggapnya aman dan tidak diketahui oleh yang jaga. Pemain yang bisa ditemukan oleh pemain yang jaga berkumpul lalu pinsut dan yang kalah pinsut menjadi yang jaga. Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut ambbellan atau delikan.

Sudamanda (engklek), di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Brok. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang. Permainan ini menggunakan gancu (pecahan genting). Permainan ini dimainkan sesuai dengan bidangnya. Pemain melempar gancu kedalam kotakan bidang. Lalu pemain berjalan menggunakan satu kaki atau engklek. Pemain deprok apabila berada di tempat yang dianjurkan untuk deprok. Pemain kembali engklek kemudian mengambil gancu. Ulangi permainan tersebut sampai akhir. Setelah gancu berhasil menempati semua kotakan, lalu pemain berjalan dengan mata tertutup untuk mencari gancunya sendiri. Apabila pada saat berjalan pemain menginjak garis, berarti permainan diulangi lagi setelah temannya bermain. Setelah gancunya berhasil didapatkan, pemain membelakangi bidang kemudian melempar gancu tersebut ke bidang. Setelah dapat, maka pemain mendapatkan tempat untuk deprok dan tempat itu tidak bisa dijamah oleh pemain lainnya.

Apolo, di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Boinan. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang atau lebih. Permainan ini menggunakan pecahan genting yang ditumpuk-tumpuk. Kemudian para pemain melemparnya dengan menggunakan bola kasti. Pemain dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang menang dan kelompok yang jaga. Apabila salah satu pemain dari kelompok yang menang berhasil merobohkan tumpukan genteng pemain yang menang berlari, lalu pemain yang kalah berusaha melempar bola tersebut ke pemain yang menang sambil menata tumpukan genteng. Apabila genteng berhasil ditumpuk, maka kelompok pemain yang menang menjadi kalah.

Bentik, permainan ini biasanya dilakukan oleh 5 orang atau lebih. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok jaga dan kelompok main. Permainan ini menggunakan bambu/bilah. Yang satu panjang dan yang satu pendek. Memainkanya, bambu yang pendek ditempatkan ditanah yang sudah dilubangi dengan arah melintang menyerupai jembatan. Lalu bambu yang panjang dimasukan dalam lubang dan mengangkat bamboo yang kecil sehingga melambung. Pemain yang jaga menangkap bambu tersebut. Apabila tertangkap mendapatkan poin. Lalu bambu yang panjang ditaruh diatas tanah yang berlubang tadi. Apabila berhasil mengenai bambu yang panjang maka pemain yang main menjadi kalah dan bergantian menjadi jaga.

Cublak-cublak suweng, permainan ini dimainkan oleh beberapa orang. Ada satu yang tengkurap. Sedangkan yang lain meletakan tangannya diatas punggung orang yang tengkurap tadi. Sambil menyanyikan lagu cublak-cublak suweng ada seorang anak yang membawa kerikil kemudian diletakkan secara berurutan sampai lagu selesai. Setelah selesai kerikil itu ada digenggaman salah seorang anak dan yang tengkurap menjawab siapa yang membawa kerikil itu. Bila benar, si pembawa kerikil akan jaga. Jika salah, dia tetap jaga.

Pak tepong, permainan ini dimainkan oleh beberapa orang. Sebelumnya dibuat garis sebagai batas pelempar dan beberapa meter didepannya dibuat lingkaran. Setiap pemain melemparkan gacuknya ke dalam lingkaran. Bagi yang gacuknya diluar lingkaran dan paling jauh, dia harus jaga. Si penjaga menata gacuk. Ke atas kemudian ia harus menutup matanya. Saat dia menutup mata, teman-temannya bersembunyi. Dia harus mencari kawannya. Bila dia melihat temannya, dia harus memegang kacuk dan berkata pak tepong. Namun kawannya juga bisa menendang gacuk-gacuk itu. Saat itulah kawan-kawan lain bisa bersembunyi lagi sementara penjaga menata kembali gacuk-gacuk itu. Yang digunakan sebagai gacuk biasanya adalah serpihan genting dan kaca.

Betengan, permainan ini dimainkan oleh beberapa orang. Cara bermainnya yaitu ada dua buah pohon yang letaknya berseberangan. Tiap pohon dihuni oleh beberapa orang. Caranya yaitu perkelompok berusaha untuk memegang kelompok lawan. Namun dalam usahanya it dihalang-halangi oleh pemilik pohon. Bila lawan ada yang dipegang pemilik maka lawan itu menjadi milik pemilik. Dan jika bisa memegang pohon lawan maka ia menjadi pemenang. Benda yang dibutuhkan yaitu dua buah pohon.

Bat engklek, dimainkan lebih dari satu orang. Ada dua macam batengklek yaitu batengklek biasa dan montor mabur. Bathengklek biasa berbentuk segiempat yang dibagi-bagi sedangkan montor mabur berbentuk pesawat terbang. Cara bermainnya sama, gacuk dilempar sesuai urutan kemudian pemilik engklek pada kotak-kotak yang ditentukan. Jika semuanya sudah selesai, pemilik akan mendapatkan sawah jika lemparan gacuk masuk pada kotak-kotak tadi. Alat : gacuk (serpihan genting, kaca, uang).

Mbar Suru, mbar suru adalah permainan rakyat yang ada di daerah eks karisidenan Surakarta khususnya di daerah Boyolali. Permainannya adalah dengan biji Flamboyan atau Asam, disebar di lantai, tidak boleh melewati garis ubin, kemudian diserok dengan kertas atau plastik yg dijepitkan di antara jemari. Ketika menyerok 2 biji yg berdempetan, tidak boleh menyentuh biji yg tidak diserok. Jika menyentuh, artinya harus berganti pemain. Permainan ini diawali dengan masing-masing pemain menyertakan 'modal' biji, misalnya 5 atau 10 dan pada akhir permainan, dihitung siapa yg lebih untung.

Ancak-ancak Alis, jenis permainan tradisional anak-anak yang ada di daerah sekitar eks karesidenan Surakarta ini, dalam proses permainannya menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan pertanian. Ketentuan jumlah pemain dalam permainan ini tidak ada, semakin banyak anak-anak yang terlibat dalam permainan ini akan semakin meriah. Tempat permainannya biasanya dipilih yang luas dan rata. Cara bermainnya yaitu pertama-tama semua pemain bersepakat untuk memilih dua orang yang diantara mereka cenderung memiliki kekuatan, ketinggian, dan besar badan yang sama untuk menjadi petani. Kemudian petani ini segera menyingkir dari kelompok permainan untuk berunding mengenai nama-nama yang diambil dari istilah pertanian, misalnya A memilih nama jagung dan B memilih nama kacang. Kemudian kedua petani berdiri berhadapan dengan kedua tangan diangkat keatas dan mereka saling menepuk tangan sambil menyanyikan lagu ancak-ancak alis. Masing-masing lagu ini di daerah Jawa ada perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lainnya.

Selasa, 01 Juni 2010

Tembang Dolanan di Jawa Tengah


Jago Kluruk

Ing wayah esuk, jagone kluruk

Rame swarane pating kemruyuk

Wadhuh senenge sedulur tani

Bebarengan padha nandur pari

Srengenge nyunar kulon prenahe

Manuke ngoceh ana wit-witan

Paling cemruwit rame swarane

Tambah asri donya saisine

Lumbung Desa

Lumbung desa pra tani padha makarya

Ayo dhi, njupuk pari nata lesung nyandhak alu

Ayo yu, padha nutu yen wis rampung nuli adang

Ayo kang, dha tumandang yen wus mateng nuli madhang

Witing Klapa

Witing klapa jawata ing ngarcapada

Salugune wong wanita

Adhuh ndara kula sampun njajah praja

Ing Ngayogya Surakarta.

Lesung Jumengglung

Lesung jumengglung

Sru imbal-imbalan

Lesung jumengglung

Manengker mangungkung

Ngumandhang ngebegi

Sajroning padesan

Thok thok thek thok thok gung

Thok thok thek thok thek thok gung

Thok thok thek thok thok gung

Thok thok thek thok thek thok gung

Kembang-Kembang

Kembang blimbing mbing maya-maya ya

Kembang pelem wujude ingklik ketela

Kembang kacang lan kara padha kupune, lha kae

Kembang pring blas-blasan kaya carange

Kembang jambu lan randhu metu karuke, lha kae

Dhasar blanggreng Si kopi pemacakira

Dhendheng Kenthing

Dhendheng kenthing thing

Sambel lonthang thang

Kakang mendhak yen mendhak ulung-ulungan

Jenang telaka gendhis mawi kalapa, aoa

Caosena temanten krenteg kawula

Benguk wana kecipir wungu kembange, aoe

Rowa rawe temanten ketemu sore.

Turi-turi putih

Ditandur neng kebon agung

Duwe bojo ora tau mulih

Sabane mung turut warung

Mbok ira-rnbok ira

Mbok ira kembange apa

Kembang-kembang mlathi

Ditandur neng tamansari

Anak bojo kudu diopeni

ing tembene bisa migunani

Mbok ira-mbok ira

Mbok ira kembange apa

  1. Lagu Anak-Anak

Gundhul Pacul

Gundhul-gundhul pacul-cul gembelengan

Nyuunggi-nyunggi wakul-kul sempoyongan

Wakul ngglempang segane dadi saratan

Wakul ngglem pang segane dadi saratan

Barat Gedhe

Cempe-cempe barata sing gedhe

Dak upahi duduh tape

Cempa-cempa barata sing dawa

Dak upahi duduh klapa

Cemper-cemper barata sing banter

Dak upahi duduh lemper

Bulan Gedhe

Bulan bulan gedhe ana santri menek jambe

Ceblokna saklining wae

Mumpung jembar kalangane

Mumpung gedhe rem bulane

Suraka-surak hiyo

Tokung

Tokung-tokung wek wek wek

Angon bebek pinggir dalan gung

Sing ngadhangi Mbok Kaki Mandraguna

Dak are-are bebek asetokung-tokung

Cublak-cublak Suweng

Cublak-cublak suweng

Cublak-cublak suweng

Suwengi si gulender

Mambu katundhung gudel

Pak empong orong-prong

Pak empong orong-prong

Sir sir plok kedhele gosong sir sir

Sir sir plok kedhele gosong sir sir

Tul Jaenak

Tul jaenak jae jatul jaidi

Kontul jare banyak ndoge bajul kari siji

A bang-abang gendera Landa

Wetan sithik kuburan mayit

Klambi abang nggo tandha mata

Wedhak pupur nggo golek dhuwit

Lindri

Lindri adang telung kathi

Lawuhe bothok ten

Njur dipenet-net

Njur diemplok-plok

Ya mak telep-lep

Pacak gulu janggreng

Adhuh yayi sendhal pancing

Kembang Jambu

Kembang jambu karuk

lintang rina jare esuk

jenang tela gethuk

omah jaga aran cakruk

pitik mabur kuwi manuk

Gajah-Gajah

Gajah-gajah, kowe takkandhani jah

Mata kaya laron kuping ilir amba-amba

Kathik nganggo tlale

Buntut cilik tansah kopat-kapit

Sikil kaya bumbung

Sasolahmu megang-megung

Te Kate Dipanah

Te kate dipanah

Dipanah ngisor gelagah

Ana manuk ondhe-ondhe

Bok Sri bombok bok ri kate

E, Dhayohe Teka

E, dhayohe teka, e, gelarna kiasa

E, klasane bedhah, e, tambalen jadah

E, jadahe mambu, e, pakakna asu

E, asune mati, e, cemplungna kali

E, kaline banjir, e, kelekna pinggir

Paman Guyang Jaran

Paman guyang jaran, e e ana apa

Ngriku wau wonten popok beruk keli, e ora ana

Nggonku neng kene wus suwe

Tan ana suket kumledhang

Amung wong kang ngguyang sapi

Takonana ya dhuk

Manawa uninga

Mbok Uwi

Mbok uwi rujak nanas

Kumpul-kumpul aneng gelas

Ya bapak ya ndara

Adhem panas rasane

Wong ngombe upas

Mas sinangkling suwasa inten berlean

Kit-kit, kit methakil

Cagak awak jare sikil

Sepuran

Sinten nunggang sepur lunga nyang Kediri

Wong niki sepur dhur bayare setali

Sapa trima nggonceng konangan kondhektur

Yen didhendha kenceng napa boten kojur

Sinten nunggang sepur lunga dhateng Nganjuk

Sinten pengin makmur aja seneng umuk.

Jamuran

Jamuran ya gegethok

Jamur apa ya gegethok

Jamur gajih brejijih saara-ara

Sira badhe jamur apa?

Menthog Menthog

Menthog -menthog, takkandhani

Mung rupamu angisin-isini,

Mbok ya aja ngetok

Ana kandhang wae

Enak-enak ngorok

Ora nyambut gawe

Menthog-menthog, mung lakumu

Megal-megol gawe guyu

Irisan Tela

Ris irisan tela la la la

Madu sari ri ri ri

Manuke podhang unine kuk angkukan

Unine kuk angkukan, unine kuk angkukan

Rujak Nanas

Mbok uwi rujak nanas

Kampul kampul aneng gelas

Ya bapak ya ndara

Adhem panas rasane wong ngombe upas

Oas mas sinangkling suwasa in ten barleyan

Ku ku ku methakil

Cagak awak jare sikil

Sluku Bathok

Sluku sluku bathok, bathoke ela elo

Si rama menyang kutha, leh olehe payung mutha

Mak jenthit lololobah, wong mati ora obah

Yen obah medeni bocah, yen urip goleka dhuwit

Buta Galak

Buta buta galak, solahe lunjak-lunjak

Ngadeg jingklak-jingklak, nungkak kanca nuli nandhak

Ngadeg bali maneh, rupane ting celoneh

Iku buron aneh dak sengguh buron kang remeh

La wong kowe we we sing marah-marahi

La wong kowe we we sing marah-marahi

Hi hi aku wedi, ayo kanca ngajak bali

Kae lo kae lo mripati plerak-plerok rok rok

Kae lo kae lo kulite ambengkerok rok rok

Ya kulite ambengkerok

Kidang Talun

Kidang talun mangan kacang talun

Mil kethemil mil kethemil

Si kidang mangan lembayung

Tikus Pithi

Tikus pithi duwe anak siji

Cit cit cuwit, cit cit cuwit

Si tikus mangani pari

Gajah Belang

Gajah Belang saka Tanah Plembang

Nuk renggunuk, nuk renggunuk

Gedhemu meh padha gunung

Sar Sur Kulonan

Sar Sur Kulonan, mak mak gemake rete te

Dak uyake rete te, dak uyake rete te

Yen kecandhak dadi gawe

Musuh mesthi mati, musuh mesthi mati

Dak bedhile mimis wesi

Mong mong jlegur, mong mong jlegur

3. Lagu Gregeting Pakaryan

Suwe ora jamu

Suwe ora jamu

Jamu godhong tela

Suwe ora ketemu

Ketemu pisan gawe gela

Suwe ora jamu

Jamu godhong keningkir

Suwe ora ketemu

Ketemu pisan dadi pikir

Gethuk

Sore-sore padhang bulan

Ayo kanca padha dolanan

Rene-rene bebarengan

Rame-rame e do gegojekan

Kae-kae rembulane

Yen disawang kok ngawe-awe

Kaya-kaya ngelingake

Kanca-kanca ja turu sore-sore

Gethuk asale saka tela

Mata ngantuk iku tambane apa

Gethuk asale saka tela

Yen ra mathuk atine rada gela

Ja ngono mas aja-aja ngono

Kadung janji mas

Aku mengko gela

Gambang Suling

Gambang suling ngumandhang swarane

Thulat-thulit kepenak unine

Unine mung nrenyuhake bareng lan kentrung

Ketipung suling sigrak kendhange

Ilir-ilir

Ilir-ilir ilir-ilir

tandure wus sumilir

tak ijo royo-royo

tak sengguh temanten anyar

cah angon cah angon

penekna blimbing kuwi

lunyu-lunyu penekna

kanggo mbasuh dodotira

dodotira kumitir bedhah ing pinggir

domdomana jrumatana

kaggo seba mengko sore

mumpung padhang rembulane

mumpung jembar kalangane

ya surak asurak hiyo.

4. Lagu RasaManunggal

Jineman Uler Kambang

Sun pepuji dadi putri kang utami

Sayuk-sayuk sayuk rukun sakancane

Ia lali lho mas kowe

Gotong-royong nyambut gawe, ya mas…..

Kang den udi

Leluhure bangsa kita

Brambang sasen lima

Berjuang labuh negara

Brambang sasen pitu

Berjuang kudu bersatu

Ora butuh kae-kae, ya mas..

Ora butuh kae-kae

Butuhku mung nyambut gawe

Tempe tahu gula Jawa

Butuhku sabar narima

Gugur Gunung

Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyaning praja

Kono-kene kono-kene gugur gunung tandang gawe

Sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane

Lila lan legawa kanggo mulyaning negara

Siji loro telu pa pat bareng maju papat-papat

Diulang-ulungake murih enggal rampunge

Holopis kuntul bariss holopis kuntul baris

Holopis kuntul baris holopis kuntul baris

Wajibe Dadi Murid

Wajibe dadi murid

Ora kena pijer pamit

Kejaba yen lara, lara tenanan

Ra kena ethok-ethokan

Yen wis mari bali neng pamulangan

Ja nganti mbolos-bolosan

Mundhak dadi bocah bodho

Pie-n ga-plengo kaya kebo

5. Lagu Keprajuritan

Mahesa Kurda

Kalamun cinandra pan yayah mahesa kurda

Bendhe umyung tengara budhale wadya

Kang tinata carub wor dadi sajuga

Sang panganjur aba-aba nabuh tambur

Teteg ajeg suling peling nut wirama

Bidhal Gumuruh

Enjing bidhal gumuruh

tambur suling gang maguru ngungkung binarung ing krapyak

myang watang agathik

kang kapyarsa swaranipun

lir ombaking samudra rob

Bala Kuswa

enjing bidhab gumuruh

saking jroning praja

gunging kang bala kuswa

aba busananira lirr surya wedalira

saking jaladri arsa madangi jagad

duk mungup-mungup aneng

sakpucaking wukir

marbabak bang sumirat

keneng soroting surya

mega lan gunung-gunung

Singa Nebak

Sigra mangsah lumampah anut wirama

getar tambur bendhene munya angungkung

suling sesauran selompret tetep mindhiki

Ladrang Clunthang

Tindake sang pekik, mandhap saking gunung

Anganti repat panakawan catur

Kang anembe mulat ngira dewa ndharat

Get er petrek-petrek pra endhang swarane

Anjawat angawe-awe ngujiwat

Solahe mrih dadya sengseme.

Dhuh raden sang abagus,

Mugi keparenga pinarak wisma kula

Amethika sekar miathi, arum amrik wangi

Kageina cundhuk sesumping, Sangsangan hamimbuhi

Mencorong cahya ndhika raden

Padha nyawiji

Ayo padha nyawiji

Tuwa mudha jaler estri

Sayuk eka kapti

Bareng dha tumandang nyukupi

Sandhang pangan kita sami

Nanging aja ana kang korupsi

Yen padha korupsi

Negarane rugi kang sayekti

Ibu Pertiwi

Paring boga lan sandhang kang murakabi

Paring rejeki manungsa kang bekti

Ibu pertiwi, ibu pertiwi

Sih sutresna kang sesami

Ibu pertiwi kang adil luhuring budi

Ayo sungkem mring ibu pertiwi.