Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Tampilkan postingan dengan label nyadran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyadran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juni 2010

Upacara Nyadran

Hampir di semua daerah di eks-karesidenan Semarang mempunyai tradisi nyadran. Upacara nyadran sendiri merupakan serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat khususnya masyarakat Jawa dengan tujuan untuk meminta keselamatan. Di daerah Kendal misalnya, tradisi nyadran dilakukan setiap satu tahun sekali di hari jumat kliwon sasi sura. Upacara ini wajib dilakukan dikarenakan masyarakat mempercayai bahwa pada sasi sura atau bulan sura merupakan bulan yang dikeramatkan, sehingga dibutuhkan suatu kewaspadaan dalam segala aktivitas. Upacara ini dilaksanakan di sebuah makam atau sejenis tempat yang dikeramatkan dengan membawa nasi beserta lauk seadanya. Sebelum upacara dimulai seseorang memimpin doa untuk meminta keselamatan, orang tersebut merupakan pemuka kampung (kepala Desa). Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan selamatan berupa makanan yang sudah disiapkan. Sebagai hiburan disajikan berupa tarian Gendot. Tarian Gendot merupakan salah satu tarian khas di Kabupaten Kendal di mana ada dua atau lebih penari wanita yang didiringi menggunakan gamelan sederhana. Tarian ini dilakukan di bawah pohon yang dianggap wingit (keramat) oleh masyarakat setempat. Hal ini bertujuan agar makhluk halus yang tinggal di pohon tersebut tidak mengganggu ketenangan masyarakat setempat.

Salah satu pohon keramat di desa Manggungmangu, kec. Plantungan,

kab. Kendal

Di daerah lain juga mempunyai tujuan yang hampir sama yaitu untuk mengirim doa kepada leluhur atau saudara yang telah meninggal. Acara nyadran dilaksanakan di kuburan, dengan membawa nasi beserta lauknya, jajan pasar, dan beberapa buah-buahan, bahkan ada yang membawa tumpeng dan ingkung ayam. Sesampainya di kuburan mereka menggela doa bersama, dan setelah doa selesai mereka menyantap makanan itu bersama-sama.

Jumat, 28 Mei 2010

Nyadran (Kenduri)

Nyadran dan Kenduri, di daerah sekitar eks karisidenan Surakarta ada tradisi yang sering disebut dengan Nyadran dan kenduri. Nyadran sering dikenal dengan bersih makam sedangkan kenduri adalah upacara selamatan setelah nyadran. Bagi masyarakat di daerah sekitar eks karisidenan Surakarta, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Tradisi ini dilakukan untuk menziarahi makam para leluhur. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi ini biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya'ban atau Ruwah. Nyadran dan ziarah kubur merupakan dua tradisi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritus dan objeknya. Perbedaannya hanya terletak pada pelaksanaannya, nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah, dan pelaksanaannya dilakukan secara kolektif.
Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah tradisi yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami. Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindhu-Buddha dan animisme yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Wali Songo. Nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak, dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa tetapi juga menjadi ajang silaturahmi keluarga.
Prosesi ritual nyadran biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi (biting). Kue-kue tersebut selain dipakai munjung atau ater-ater yang kemudian dibagi-bagikan kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe atau pelengkap dalamselamatan/ kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.
Setelah melakukan pembersihan makam, masyarakat kampung menggelar kenduri yang berlokasi di sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur/keluarga. Kenduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan kode dara muluk (berkepanjangan). Lalu seluruh keluarga dan anak-anak kecil serta remaja hadir dalam acara kenduri itu. Tujuan dari tradisi kenduri itu adalah untuk mengenang arwah anggota keluarga yang telah meninggal.
Tiap keluarga biasanya membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, kebayan desa membuka acara, isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya. Setelah itu, Mbah Kaum (ulama daerah setempat), maju untuk memimpin doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Doanya biasanya menggunakan tata cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Setelah dibacakan doa, ada yang tukar-menukar kue. Setelah itu, Biasanya Mbah Kaum diberi uang wajib dan makanan secukupnya, sedangkan yang tidak hadir atau si miskin diberi gandhulan, nasi, kue yang dikemas khusus kemudian diantar ke rumah yang sudah disepakati diberi gandhulan.