Mangga Gladhen Bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Senin, 31 Mei 2010

Serat Wedhatama


Serat Wedhatama sebagai Sastra Piwulang: Wahana Pendidikan Moral

Para pengarang sastra Jawa, khususnya yang hidup pada zaman kebangkitan mataram baru di Surakarta telah banyak melahirkan karya-karya yang bersumber pada keselarasan hidup antara manusia dan alamnya. Para pujangga yang namanya begitu masyhur sebagai pekerja kreatif seperti Susuhunan Pakubuana IV, Yasadipura I, Yasadipura II, Raden Ngabehi Ranggawarsita, dan KGPA Mangkunegara IV, telah mampumembawa perubahan besar pada peta kesusastraan Jawa abad itu, bahkan melalui karya mereka telah terciptalah suatu garis anutan pendidikan moral.

Sebagai hasil karya seorang pujangga, kehadiran sastra piwulang tidak pernah lepas dari fungsi penyaluran ide pribadi pengarangnya, dan bagi masyarakat pembaca karya sastra secara tidak langsung juga merupakan tawaran ide yang setiap saat akan mempengaruhi pola tingkah laku mereka. Karya sastra selain berfungsi sebagai penghibur juga dalam kasus- kasus tertentu dapat berperan aktif memberi tuntunan bagi keselarasan hidup manusia pada umumnya.

Dalam khasanah sastra Jawa yang telah berkembang jauh sejak zaman Hindu, selain dalam penceritaan suatu kisah tertentu, dikenal pula teks-teks didaktik moralistik. Ciri teks ini banyak diwarnai dengan deskripsi tata tingkah laku pergaulan sehari-hari dalam hidup bermasyarakat. Karya sastra didaktik dalam masyarakat Jawa merupakan sastra piwulang yang memberi tuntunan bagi pendidikan moral dan budi pekerti yang sebaiknya dilakukan oleh manusia berbudaya. Pada umumnya yang disebut sastra piwulang dalam tradisi kesusastraan Jawa adalah teks didiktik berbahasa Jawa yang ditulis oleh raja atau pujangga istana untuk dijadikan dasar pembentukan watak dan perilaku kerabat istana. ( Yusro Edi Nugroho, “Senarai Puisi Jawa Klasik” (Semarang: Penerbit Cipta Prima Nusantara, 2008)).

Serat wedhatama yang secara semantik terdiri dari tiga suku kata, yaitu: serat, wedha, dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, Wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan Tama berasal dari kata Utama yang artinya baik, tinggi, atau luhur. Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan umat manusia. ( Yusro Edi Nugroho, “ Puisi Jawa Klasik” (Semarang: Studioduabelas, 2006)).

Serat Wedhatama pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis. Majalah Djawa pernah mengadakan lomba untuk menterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Pemenangnya pada saat itu adalah Zoetmulder. ( S. Margana, “Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)).

Serat Wedhatama sebagai karya sastra piwulang atau sebagai wahana pendidikan moral, karena dalam Serat Wedhatama terkandung ajaran tentang pendidikan budi pekerti yang luhur. Sehingga dapat menjadi tuntunan hidup bagi masyarakat, ajaran yang terkandung dalam Serat Wedhatama tidak hanya ditujukan bagi masyarakat jawa saja, meskipun awalnya bertujuan untuk pembentukan watak dan perilaku kerabat istana dan masyarakatnya yaitu masyarakat Jawa. Tetapi juga dapat dijadikan wahana pendidikan moral bagi masyarakat bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia, hal ini dikarenakan ajaran yang terkandung dalam Serat Wedhatama yang memiliki sifat universal.

Serat Wedhatama selain mengandung ajaran budi pekerti yang luhur didalamnya juga terkandung ajaran yang oleh beberapa penulis seperti Soebandi dan Simuh bersifat mistik dean ajaran tasawuf. ( S. Margana, “Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)).chafidibnuabdillah.blogspot.com

Sabtu, 29 Mei 2010

Mantra Siyung Wanara

Gebyar sapisan sakehing cahya padha sirna, gebyar pindho sakehing roh padha sirep, rep sirep sajagade, kepyar-kepyur si bajul padha lumayu bubar. Lakune nglowong 3 dina 3 bengi, wiwite dina Setu Kliwon. Mantra diwaca kanggo nyingkirake baya Ian buron banyu kang galak, sarta uga diwedeni wong akeh.

Jenis Batik Surakarta

Ragam Batik Daerah Eks Karesidenan Surakarta, ada 2 yaitu:

1. Batik Solo

Batik ini diproduksi oleh masyarakat Solo. Dalam produksinya dilakukan secara cetak dan tulis. Usaha produksi batik solo,selain diproduksi rumahan juga diproduksi oleh rumah produksi yang lebih besar. Motif batiknya yang beragam dan menarik tak kalah saing dengan produksi batik di daerah lain.

Laweyen adalah salah satu sentral Batik di Solo. Kampung ini Tentunya ada banyak sekali sejarah yang tertinggal di kapung ini dan menjadi icon Batik.

Batik merupakan hasil karya seni tradisional yang banyak ditekuni masyarakat Laweyan. Sejak abad ke-19 kampung ini sudah dikenal sebagai kampung batik. Itulah sebabnya kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung juragan batik yang mencapai kejayaannya di era tahun 70-an.

2. Batik Pengging

Batik ini merupakan produksi rumah tangga daerah Pengging Kec. Banyudono Kab. Boyolali. Kekhasan dari batik ini terletak pada gradasi warna dan motifnya yang berbunga-bunga.

Cara Membuat Batik

1) Batik

Batik merupakan kerajinan tangan rakyat yang sudah dikembangkan sejak lama, disamping itu juga merupakan salah satu warisan budaya adi luhung yang dimiliki Indonesia. Lewat batik, kita dapat belajar banyak tentang falsafah hidup. Setiap motif batik selalu menyimpan makna. Tiap guratan dan perlambang dalam motif batik mengandung doa, falsafah dan cerita yang dapat member inspirasi dalam kehidupan.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam membuat batik antara lain:

a. Malam

Malam merupakan bahan yang sangat berperan sekali dalam membuat batik. Sebelum digunakan membatik malam berbentuk padat setelah ditaruh dalam wajan dan dipanasi dengan kompor maka malam tersebut akan mencair. Konsentrasi cairan malam harus dijaga dengan cara mengatur besar kecilnya api kompor. Malam memiliki beberapa jenis yang diantaranya:

· Malam merah atau hitam

· Malam kuning

· Malam putih

· Malam kepyar, dan jenis malam yang lainnya

b. Kain Mori

Untuk batik tulis bakaran kain yang digunakan sebagai media tulis dan lukis dalam membatik menggunakan kain mori yang bahan dasarnya 100% dari kapas (kain mori katun). Beberapa alasan pengrajin menggunakan kain mori diantaranya:

· Kain mori ini tergolong kain yang cukup tipis, jika dibatili akan tembus atau batiknya akan terlihat jelas sehingga mudah untuk di terusi.

· Kain mori memiliki penyerapan terhadap zat warna sangat bagus. Selain itu sangat mudah didapat sebab banyak terdapat dipasaran.

· Bila kain mori tidak 100% kapas, atau bercampur bahan lain seperti nylon, biasanya kalau terkena malam panas akan mengkerut, selain itu tidak dapat menyerap zat warna dengan sempurna.

c. Zat Pewarna

Yaitu zat yang dpergunakan untuk mewarnai kain bathik, zat pewarna ini dibedakan atas zat pewarna buatan/sintetis (hasil proses kimiawi) dan zat pewarna alami (dari tumbuh – tumbuhan). Untuk saat ini pewarnaan bathik di Bakaran Wetan lebih banyak menggunakan zat berwarna buatan, yang dikarenakan zat pewarna tersebut lebih murah harganya dan lebih mudah didapatkan dipasaran. Menurut jenisnya zat pewarna dibagi menjadi 3 bagian yang diantaranya :

· Wedel adalah zat warna dasar, dengan warna biru tua. Wedel dengan warna biru tua ini biasanya diaplikasikan pada batik klasik bakaran.

· Sogo ini merupakan zat pewarna khusus, dengan warna merah kecoklatan. Sogo dengan warna merah kecoklatan biasanya diaplikasikan pada batik klasik bakaran.

· Saren disini hanya digunakan sebagai zat penentu warna, jadi bila membeli sogo pasti harus beserta dengan sarennya.

secara umum warna-warna yang sering dipapaki dalam pewarnaan batik sebagai berikut:

1. Warna hitam

2. warna biru tua

3. warna soga/ coklat

4. warna mengkudu/ merah tua

5. warna hijau

6. warna kujning

7. warna violet

Proses Pembuatan Batik Tulis

Proses pembuatan Bathik Solo, secara garis besar dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu

I. Diloyor

Adalah dimana kain mori sudah dipersiapkan, direndam untuk menghilangkan kanjinya. Dan dikeringkan. Kemudian setelah kering direndam kembali didalam bubur beras Wulu serta dikeringkan kembali dengan cara dibentang supaya kain tersebut tidak kusut.

II. Dikemplong

Yaitu memukul – mukul kain yang telah selesai diloyor palu kayu besar yang bertujuan supaya kainnya menjadi rata.

III. Membuat Pola

Dalam membuat pola batik Solo terdapat 2 macam proses pembutan pola. Yaitu : pola langsung dan pola tidak langsung. Pola langsung, dimana si pembuat pola tidak memerlukan alat bantu berupa kertas tetapi dari canting langsung idenya digambarkan dalam kain mori. Langkah ini biasanya di kerjakan oleh pembatik yang sudah professional. Sedangkan pola tidak langsung pembatik harus menggambar dulu motif batik dalam kertas lalau dipindahkan dalam kain mori menggunakan pensil dengan dibantu meja kaca dan penyinaran lampu.

IV. Ngengkrengan

Yaitu melukis dengan canthing kengkrengan mengikuti gambar pada kain yang telah digambari corak batik dengan pensil. (untuk bathik cap, tidak melalui proses ini). Dan ngengkreng ini merupakan proses pembatikan awal pada kain mori sesuai dengan pola / motif yang dibuat sebelumnya dengan menggunakan canting yang berlubang besar dan berlubang sedang. Malam yang digunakan jenis malam merah. Semua ornament harus diisi sesuai denga keahlian pengrajin masing-masing

V. Nyeceki

Adalah membuat rancangan gambar dengan malam dan menggunakan canting cecek. Nyeceki ini dilakukan jika dalam desainnya terdapat pola / ornament yang membutuhkan proses ini.

VI. Isen – isen

Tahap ini menekankan pada gambar supaya lebih hidup dengan cara mengisi rancangan gambar dengan melekatkan malam dan menggunakan canting Isen – isen. Isen-isen ini dilakukan jika dalam desainnya terdapat pola / ornament yang membutuhkan proses ini.

VII. Nerusi

Adalah merekatkan malam pada sisi sebaliknya, yang bertujuan untuk mendapatkan hasil bathikan yang berkualitas. Nerusi ini hampir mirip dengan ngengkreng, sesuai dengan istilahnya nerusi hanya merupaka proses kelanjutan dari ngengkreng dengan membalik bagian kain mori yang sudah di kengkreng

VIII. Nembok

Nembok adalah proses menutup bagian yang dikehendaki agar nantinya warna akan tetap putih / tidak terkena warna tertentu. Malam yang digunakan berjenis malam hitam. Dan canting yang digunakan adalah canting yang berlubang besar (canting tembok). Jika penebalan dilakukan pada pola Bledah maka yang dilakukan untuk pertama kalinya harus menggunakan malam putih, setelah itu di ulang dengan malam kuning dan dikerjakan dengan berulang-ulang.

IX. Wedel

Wedel merupakan langkah untuk memberikan warna dasar pada sebuah batik, proses ini memberikan warna biru tua kehitam-hitaman, tapi dengan seiringnya perkembangan batik yang semakin kaya akan motif dan warna, wedel sekarang sangat berfariatif.

X. Pengerikan / kerok

Istilah pengerikan sering disebut dengan kerok, yaitu suatu langkah pelepasan malam dari ngengkrengan dan nerusi dengan menggunakan alat seperti pisau tumpul yang di bengkokkan seperti huruf “u”. fungsi dari pengerikan ini agar nantinya batik yang setengah jadi dapat diberi warna sogo. Tapi sebelumnya harus di jemur dulu.

XI. Mbironi

Kain wedelan, yang telah melalui proses pengerokan biasanya malam batikan mengalami kerontokan, untuk mencegah kemasukan warna lain, maka ditutup kembali. Dan yang dimaksud mbironi adalah menutup bagian yang dikehendaki agar tetap berwarna biru dan putih, selain itu agar jangan sampai kemasukan warna lain bila disogo nanti. Mbironi ini biasanya dilakukan dengan menggunakan canting tembok dan klowong atau canting khusus untuk mbironi..

XII. Menyogo dan Saren

Proses sogo ini dilakukan agar motif batik bisa mendapatkan warna coklat kemerahan yang akan memberikan warna pada bagian bekas kerokan. Setelah proses sogo selesai dan betul-betul kering lalu disaren, saren sendiri berfungsi sebagai proses penguat warna. Untuk menyogo dan saren ini biasanya menggunakan zat pewarna alami yang terbuat dari kulit kayu ; jambal, tinggi dan teger. Jenis tumbuhan ini terdapat di daerah NTB dan Kalimantan.

XIII. Nglorot atau Mbabar

Proses ini adalah melepas semua malam yang nempel pada kain batik tanpa terkecuali, dan merupakan tingkat pekerjaan yang paling akhir. Dengan cara memasukkan kain batik yang masih penuh dengan malam kedalam air mendidih, dengan demikian seluruh malam yang nempel pada desain batik akan hilang dan meleleh dengan sendirinya.

XIV. Mbilasi

Yaitu setelah malam bathiknya lepas dari kain kemudian kainnya dibilas dengan air hingga bekas airnya sampai kelihatan bening.

XV. Pememehan

Setelah proses babaran usai tahap berikutnya adalah pengeringan kain bathik. Dengan cara dijemur sampai kering dan tidak boleh kontak langsung dengan pancaran sinar matahari.

Permainan Rakyat

Permainan rakyat yang dimainkan dan masih ada sampai saat ini yang dapat dihimpun dari eks Karesidenan Surakarta, adalah sebagai berikut :

Jamuran, permainan ini dilakukan oleh sekelompok orang minimal 4 orang. Pemainnya berdiri melingkar dan bergandengan tangan. Ada salah satu pemain yang berdiri di tengah-tengah. Biasanya orang yang jadi (masang). Para pemain berputar sambil menyanyikan lagu jamuran. Kemudian yang berada ditengah / yang jadi meminta. Misalnya meminta jamur kethek menek. Semua pemain harus memanjat. Berarti dia yang jadi (masang)

Bekelan, permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang, yang satu sebagai lawan mainnya. Permainan ini dilakukan secara bergantian. Apabila satu pemain kalah, pemain yang satu yang memainkan begitu seterusnya. Alatnya berupa bola bekel dan empat buah batu kerikil. Cara bermainnya, bola bekel dilempar ke atas dengan pelan. Kemudian mengambil batu yang berada di bawah. Lalu kembali menangkap bola yang melambung tadi, sebelum bola jatuh ke tanah. Pertama, ambil batunya satu persatu, lalu dua per dua, lalu 3, lalu 4, begitu seterusnya.

Dakon, permainan ini tidak hanya sering dilakukan oleh masyarakat. Namun permainan ini juga dilakukan oleh puteri raja dalam keraton Dalam keraton biasanya menggunakan kecik (biji sawo). Selain biji sawo juga bisa menggunakan kerikil. Setiap lingkaran diberi kerikil 5 buah. Kecuali lingkaran yang berada disamping. Lingkaran itu dibiarkan kosong karena untuk menempatkan hasilnya. Permainan ini dimainkan oleh dua orang secara bergantian.

Bedelikan, permainan ini biasanya dilakukan oleh 5-7 orang atau lebih. Biasanya dilakukan pada siang hari atau juga sore hari. Pemain yang jaga biasanya pemain yang kalah pinsut. Pemain yang jaga menutup matanya lalu menghitung dari 1 sampai 10. pemain yang lain bersembunyi ditempat yang kira-kira dianggapnya aman dan tidak diketahui oleh yang jaga. Pemain yang bisa ditemukan oleh pemain yang jaga berkumpul lalu pinsut dan yang kalah pinsut menjadi yang jaga. Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut ambbellan atau delikan.

Sudamanda (engklek), di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Brok. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang. Permainan ini menggunakan gancu (pecahan genting). Permainan ini dimainkan sesuai dengan bidangnya. Pemain melempar gancu kedalam kotakan bidang. Lalu pemain berjalan menggunakan satu kaki atau engklek. Pemain deprok apabila berada di tempat yang dianjurkan untuk deprok. Pemain kembali engklek kemudian mengambil gancu. Ulangi permainan tersebut sampai akhir. Setelah gancu berhasil menempati semua kotakan, lalu pemain berjalan dengan mata tertutup untuk mencari gancunya sendiri. Apabila pada saat berjalan pemain menginjak garis, berarti permainan diulangi lagi setelah temannya bermain. Setelah gancunya berhasil didapatkan, pemain membelakangi bidang kemudian melempar gancu tersebut ke bidang. Setelah dapat, maka pemain mendapatkan tempat untuk deprok dan tempat itu tidak bisa dijamah oleh pemain lainnya.

Apolo, di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Boinan. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang atau lebih. Permainan ini menggunakan pecahan genting yang ditumpuk-tumpuk. Kemudian para pemain melemparnya dengan menggunakan bola kasti. Pemain dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang menang dan kelompok yang jaga. Apabila salah satu pemain dari kelompok yang menang berhasil merobohkan tumpukan genteng pemain yang menang berlari, lalu pemain yang kalah berusaha melempar bola tersebut ke pemain yang menang sambil menata tumpukan genteng. Apabila genteng berhasil ditumpuk, maka kelompok pemain yang menang menjadi kalah.

Bentik, permainan ini biasanya dilakukan oleh 5 orang atau lebih. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok jaga dan kelompok main. Permainan ini menggunakan bambu/bilah. Yang satu panjang dan yang satu pendek. Memainkanya, bambu yang pendek ditempatkan ditanah yang sudah dilubangi dengan arah melintang menyerupai jembatan. Lalu bambu yang panjang dimasukan dalam lubang dan mengangkat bamboo yang kecil sehingga melambung. Pemain yang jaga menangkap bambu tersebut. Apabila tertangkap mendapatkan poin. Lalu bambu yang panjang ditaruh diatas tanah yang berlubang tadi. Apabila berhasil mengenai bambu yang panjang maka pemain yang main menjadi kalah dan bergantian menjadi jaga.

Cublak-cublak suweng, permainan ini dimainkan oleh beberapa orang. Ada satu yang tengkurap. Sedangkan yang lain meletakan tangannya diatas punggung orang yang tengkurap tadi. Sambil menyanyikan lagu cublak-cublak suweng ada seorang anak yang membawa kerikil kemudian diletakkan secara berurutan sampai lagu selesai. Setelah selesai kerikil itu ada digenggaman salah seorang anak dan yang tengkurap menjawab siapa yang membawa kerikil itu. Bila benar, si pembawa kerikil akan jaga. Jika salah, dia tetap jaga.

Pak tepong, permainan ini dimainkan oleh beberapa orang. Sebelumnya dibuat garis sebagai batas pelempar dan beberapa meter didepannya dibuat lingkaran. Setiap pemain melemparkan gacuknya ke dalam lingkaran. Bagi yang gacuknya diluar lingkaran dan paling jauh, dia harus jaga. Si penjaga menata gacuk. Ke atas kemudian ia harus menutup matanya. Saat dia menutup mata, teman-temannya bersembunyi. Dia harus mencari kawannya. Bila dia melihat temannya, dia harus memegang kacuk dan berkata pak tepong. Namun kawannya juga bisa menendang gacuk-gacuk itu. Saat itulah kawan-kawan lain bisa bersembunyi lagi sementara penjaga menata kembali gacuk-gacuk itu. Yang digunakan sebagai gacuk biasanya adalah serpihan genting dan kaca.

Betengan, permainan ini dimainkan oleh beberapa orang. Cara bermainnya yaitu ada dua buah pohon yang letaknya berseberangan. Tiap pohon dihuni oleh beberapa orang. Caranya yaitu perkelompok berusaha untuk memegang kelompok lawan. Namun dalam usahanya it dihalang-halangi oleh pemilik pohon. Bila lawan ada yang dipegang pemilik maka lawan itu menjadi milik pemilik. Dan jika bisa memegang pohon lawan maka ia menjadi pemenang. Benda yang dibutuhkan yaitu dua buah pohon.

Bat engklek, dimainkan lebih dari satu orang. Ada dua macam batengklek yaitu batengklek biasa dan montor mabur. Bathengklek biasa berbentuk segiempat yang dibagi-bagi sedangkan montor mabur berbentuk pesawat terbang. Cara bermainnya sama, gacuk dilempar sesuai urutan kemudian pemilik engklek pada kotak-kotak yang ditentukan. Jika semuanya sudah selesai, pemilik akan mendapatkan sawah jika lemparan gacuk masuk pada kotak-kotak tadi. Alat : gacuk (serpihan genting, kaca, uang).

Mbar Suru, mbar suru adalah permainan rakyat yang ada di daerah eks karisidenan Surakarta khususnya di daerah Boyolali. Permainannya adalah dengan biji Flamboyan atau Asam, disebar di lantai, tidak boleh melewati garis ubin, kemudian diserok dengan kertas atau plastik yg dijepitkan di antara jemari. Ketika menyerok 2 biji yg berdempetan, tidak boleh menyentuh biji yg tidak diserok. Jika menyentuh, artinya harus berganti pemain. Permainan ini diawali dengan masing-masing pemain menyertakan 'modal' biji, misalnya 5 atau 10 dan pada akhir permainan, dihitung siapa yg lebih untung.

Ancak-ancak Alis, jenis permainan tradisional anak-anak yang ada di daerah sekitar eks karesidenan Surakarta ini, dalam proses permainannya menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan pertanian. Ketentuan jumlah pemain dalam permainan ini tidak ada, semakin banyak anak-anak yang terlibat dalam permainan ini akan semakin meriah. Tempat permainannya biasanya dipilih yang luas dan rata. Cara bermainnya yaitu pertama-tama semua pemain bersepakat untuk memilih dua orang yang diantara mereka cenderung memiliki kekuatan, ketinggian, dan besar badan yang sama untuk menjadi petani. Kemudian petani ini segera menyingkir dari kelompok permainan untuk berunding mengenai nama-nama yang diambil dari istilah pertanian, misalnya A memilih nama jagung dan B memilih nama kacang. Kemudian kedua petani berdiri berhadapan dengan kedua tangan diangkat keatas dan mereka saling menepuk tangan sambil menyanyikan lagu ancak-ancak alis. Masing-masing lagu ini di daerah Jawa ada perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lainnya.

Kepercayaan Rakyat

Kepercayaan rakyat atau yang sering disebut dengan ”takhyul” adalah kepercayaan yang oleh orang berpendidikan Barat dianggap sederhana bahkan pandir, tidak berdasarkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Berhubungan kata takhyul mengandung arti merendahkan atau menghina, maka ahli foklor modern lebih senang mempergunakan istilah kepercayaan rakyat (folk belief) atau keyakinan rakyat dari pada menyebutnya dengan kata ”takhyul”, karena takhyul merupakan hayalan belaka atau sesuatu yang hanya di angan-angan saja (Poerwadarminta, 1976:996).

Alan Dundes mengatakan bahwa takhyul adalah ungkapan tradisional dari satu atau lebih syarat, dan satu atau lebih akibat, beberapa syarat-syaratnya bersifat tanda dan yang lainnya bersifat sebab ( Dundes, 1961):25-26).

Berhubung takhyul adalah semacam ungkapan tradisional maka ia termasuk foklor, tetapi berbeda dengan kapan tradisional lainnya seperti bahasa rakyat, pribahasa, teka-teki, sajak, nyanyian rakyat, dan cerita rakyat. Ada sebuah klasifikasi takhyul yang dibuat oleh Wayland D. Hand, seorang redaksi bab ”Superstitious” dari buku The Frank C. Brown Collection of Nortt Coralina Foklor, jilid VII. Ia telah menggolongkan takhyul menjadi empat golongan besar.

a) Takhyul di sekitar lingkaran hidup manusia, ada tujuh kategori:

Ø Takhyul lahir, masa bayi dan masa kanak-kanak, ini merupakan kepercayaan rakyat yang menjadi latar belakang upacara-upacara lingkaran hidup manusia yang banyak dipraktekkan oleh bangsa Indonesia. Contoh: di Jawa wanita yang sedang mengandung dianjurkan untuk melihat benda-benda atau manusia yang bagus.

Ø Takhyul tubuh manusia dan obat-obatan, contoh: pada orang Indonesia bagian tubuh yang harus dilindungi adalah kepala karena di sana terletak tenaga hidupnya.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan rumah dan pekerjaan rumah tangga, contoh bila pada waktu membubuti bulu ayam karena bila sambil bicara ada kepercayaan bulu dapat tumbuh lagi secara gaib.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan hubungan sosial, contohnya jika ada tamu yang terlalu lama bertamu dan tidak mau segera pulang, maka dapat dipaksa segera pergi dengan jalan membawa ulegan untuk mengulek bumbu masakan di hadapannya.

Ø Takhayul yang berhubungan dengan perjalanan dan perhubungan, contohnya bila ada mata kita kedutan, alamat akan menerima berita yang kurang baik.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan cinta, pacaran dan pernikahan.

Ø Takhyul yang berhubungan dengan kematian.

Biasanya masyarakat desa ada yang mempercayai adanya ”dhayang”. Dhayang ini sering memiliki zat sakti yang disebut ”pulung”. Pulung ini akan merasuki tubuh calon lurah yang kemudian akan menjadi kepala desa. Sedangkan daerah kekuasaan suatu dhayang disebut ”kumaran’. Kata kumaran berasal dari kumara atau kemara yang berarti suara yang tidak tahu datangnya dari mana.

Suatu fungsi kepercayaan terhadap roh-roh gaib seperti bangsa alus, memedi, gendruwo, lelembut, setan, jin, dan dhayang menurut Clifford geertz adalah untuk memberi suatu perangkat penjelasan, yang telah tersedia, kepada para penganutnya dan untuk menerangkan pengalaman yang aneh-aneh serta sangat membingungkan.

Takhyul mengenai terciptanya alam semesta dan dunia oleh Wyland D. Hand dibagi lagi menjadi empat:

Ø Takhyul mengenai gejala atau fenomena kosmik diantaranya adalah kepercayaan rakyat mengenai gempa yang ada di Nias dianggap sebagai bergoyangnya ular besar yang mendukung bumi. Ular raksasa tersebut berbuat seperti itu karena untuk memeriksa apakah di bumi ini masih ada manusianya atau tidakkarena sehabis perang terasa ada darah manusiia yang menetes ketubuhnya setelah menetes ke bumi.

Ø Takhyul mengenai cuaca juga ada di Indonesia, misalnya pada malam hari jika ada orang yang melihat lingkaran putih di sekeliling bulan, maka itu merupakan alamat bahwa esoknya akkan turun hujan.

Ø Takhyul mengenai binatang dan peternakan, misal ada kepercayaan orang Jawa bahwa burung perkutut dapat memberi alamat baik maupun buruk kepada pemeliharanya.

Ø Takhyul mengenai penangkapan ikan dan berburu.

Ø Takhyul mengenai tanaman dan pertanian, misalnya hari baik sayur-sayuran dan kacang-kacangan adalah hari waspati (kamis) dan Sukra(jum’at).

Latar belakang mengapa takhyul masih dapat bertahan sampai sekarang ini dikarenakan cara berfikir yang salah, koinsiden, predileksi (kegemaran), secara psikologis umat manusia untuk percaya kepada hal-hal yang gaib, nitus peralihan hidup, teori keadaan dapat hidup terus, perasaan ketidaktentuan tujuan-tujuan yang sangat didambakan, ketakutan akan hal-hal yang tidak normal atau penuh resiko dan takut akan kematian.


Upacara Jathukraman

1. Upacara Jatukraman

Upacara Jatukraman merupakan salah satu upacara adat di desa Sikemplong, kecamatan Plantungan, kabupaten Kendal. Upacara yang dilaksanakan pada bulan sura atau sasi sura ini merupakan salah satu upacara adat yang masih ada sampai sekarang di desa ini.

¥ Sejarah singkat upacara Jatukraman

Plantungan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di lereng gunung Perahu, di daerah ini masih mempercayai mitos-mitos yang ada sejak jaman dahulu salah satunya ialah mitos mandi kembang di kali Pengantin. Penduduk mempercayai bahwa upacara Jatukraman merupakan upacara dimana seorang perempuan yang belum mendapatkan pasangannya dan sudah jenuh mencari tetapi belum juga mendapatkan jodoh maka dengan mandi kembang di sungai tersebut kelak akan menemukan jodohnya. Karena sudah banyak orang-orang yang membuktikan, maka dari hanya sekadar mitos perlahan-lahan berubah menjadi salah satu adat di desa ini.

¥ Tata cara upacara Jatukraman

Ketika sasi sura di tengah malam (jam 00.00) malam jum’at kliwon, diadakanlah upacara Jatukraman dimana seorang perempuan yang sulit menemukan jodoh tersebut mandi di sungai pengantin bersama juru kunci sungai tersebut.

Syarat-syaratnya:

Ø Seorang perempuan tersebut harus sudah berpuasa selama 40 hari sebelum menjalankan ritual mandi di kali pengantin,

Ø Memakai jarik ketika proses mandi tersebut,

Ø Menyiapkan kembang tujuh rupa (berfungsi agar membuat wangi perempuan yang belum menemukan jodohnya tersebut,

Ø Menyiapkan dupa atau sesaji guna diletakkan di pinggir sungai (berfungsi agar upacara yang dilakukan pada malam itu terasa rumesep)

Ø Ketika upacara Jatukraman tersebut selesai, laki-laki siapa saja yang mendekati adalah merupakan jodoh yang dicari selama ini.

Tata cara:

Ø Perempuan yang belum menemukan jodoh tersebut di iring dari rumah sesepuh desa menuju kali pengantin mengenakan kebaya lengkap,

Ø Sesampainya di kali pengantin perempuan mengganti pakaian kebaya dengan hanya mengenakan jarik (seperti wanita jaman dahulu ketika mandi (kembenan)),

Ø Membaca doa yang akan dituntun oleh sesepuh desa atau juru kunci kali pengantin,

Ø Mengambil air sungai tersebut kemudian dicampurkan dengan kembang tujuh rupa kemudian disiramkan di seluruh tubuh, tahap ini tidak dilakukan sendiri tetapi oleh juru kunci (mandi disini hanya sebagai syarat guna menghilangkan kotoran yang ada didalam diri yang berakibat sulit menemukan jodoh),

Ø Pembacaan doa oleh juru kunci,

Ø Setelah selesai perempuan tersebut diiring kembali menuju rumah juru kunci guna istirahat.

Upacara ini tergolong upacara yang jarang sekali dilakukan, hanya ketika ada perempuan yang minta pertolongan guna mencarikan jodoh. Dan diharapkan dengan upacara ini perempuan yang sulit menemukan jodoh tersebut segera mendapatkan jodoh. Uniknya setelah beberapa minggu upacara berlangsung, perempuan tersebut langsung menemukan jodohnya. Hal ini dikarenakan kepercayaan yang kuat yang mengalir pada diri perempuan tersebut dan masyarakat.